Ancaman Kanker Ginjal: Gejalanya Tak Tampak dan Cara Mendeteksinya Lebih Awal

Ancaman Kanker Ginjal: Gejalanya Tak Tampak dan Cara Mendeteksinya Lebih Awal

Boby Febri Krisdianto, Universitas Andalas

Akhir Desember lalu, penyanyi muda Indonesia Vidi Aldiano mengumumkan dia terkena kanker ginjal stadium 3 dan telah menjalani operasi ginjal di Singapura. Kini dia mengandalkan satu ginjal setelah kanker di ginjal kirinya dioperasi.

Penyakit ini diketahui saat Oktober tahun lalu Vidi kehilangan suara, lalu dokter mendeteksi dia mengidap tekanan darah tinggi (hipertensi). Pengecekan medis berikutnya baru menemukan ada kanker di ginjalnya.

Kanker ginjal adalah jenis kanker yang tidak memiliki gejala dini dan variasi gejala yang muncul kadang tidak berhubungan dengan ginjal.

Seringkali gejala yang dirasakan pasien kanker ginjal adalah demam, anemia, lesu, penurunan nafsu makan, hipertensi, hiperkalsemia (kelebihan kalsium), dan gangguan fungsi hati.

Sebuah riset di India, yang mempelajari catatan pasien kanker selama delapan tahun, dari 2000 sampai 2008, menunjukkan dari 235 pasien yang memeriksakan diri ke dokter memunculkan gejala: 48% membawa keluhan kencing darah, 31,9% nyeri panggul, dan 14,5% punya masalah di sisi panggul.

Sekitar 20-40% kanker ginjal ditemukan saat pemeriksaan fisik rutin atau sebab lainnya dan tanpa gejala terasa oleh pasien. Hal ini yang menyebabkan kebanyakan pasien kanker ginjal baru berobat pada stadium akhir atau saat sel kanker telah menyebar ke jaringan organ lain.

Karena itu, mendeteksi sejak dini dan menghindari faktor risiko merupakan upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah terkena kanker ginjal.

Faktor risiko

Vidi merupakan salah satu dari sembilan dari 100.000 orang prevalensi penderita kanker ginjal di Indonesia.

Menurut Badan Kesehatan Dunia, pada 2018 kanker ginjal menduduki peringkat ke-20 dari seluruh angka kejadian di Indonesia dengan 2.112 kasus baru dan tercatat 1.225 orang meninggal karena penyakit ini.

Butuh biaya besar untuk merawat pasien kanker ginjal. Seorang pasien kanker menghabiskan biaya pengobatan sedikitnya Rp100 juta per tahun.

Ada 3 faktor risiko terbesar dari gaya hidup yang menyebabkan kanker ginjal yaitu merokok, obesitas, dan hipertensi. Dalam kasus Vidi, tampaknya karena hipertensi, karena dia bukan perokok.

Hasil penelitian terhadap pasien kanker ginjal menunjukkan perokok berisiko dua sampai tiga kali lebih tinggi menderita kanker ginjal dibandingkan yang tidak merokok. Risiko ini juga ikut meningkat dengan banyaknya jumlah rokok dan lamanya tahunan merokok. Risiko akan menurun jika berhenti merokok.

Rokok berefek karsinogen dengan mekanisme yang hampir sama dengan kanker lainnya. Rokok dapat menyebabkan mutasi pada p53 yakni protein pencegah terjadinya kanker.

Terkait kelebihan berat badan, sebuah hasil penelitian menyatakan obesitas 40% ditemukan pada pasien kanker ginjal di Amerika Serikat dan 30% di Eropa. Hal ini menjadi dasar estimasi dari risiko kanker ginjal yang dihubungkan dengan obesitas.Hasil penelitian di Jepang juga menemukan obesitas memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian dan kematian akibat kanker ginjal.

Faktor lainnya, studi di Jepang berkesimpulan terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi dan kanker ginjal. Hipertensi merupakan penyebab kematian pada penderita kanker ginjal.

Diabetes mellitus dan penyakit ginjal lainnya juga merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker ginjal dan meningkatkan risiko kematian pasien kanker ginjal.

Penelitian Masakazu Washio and Mitsuru Mori (2009) dari Jepang tentang faktor risiko kanker ginjal di Jepang menunjukkan minum teh hitam dengan frekuensi 3 cangkir per hari berisiko menyebabkan kanker ginjal.

Bahan kimia Akrilamida yang digunakan dalam produksi perekat (lem), kertas, dan kosmetik bersifat karsinogen. Akrilamida secara alami diproduksi saat makanan yang kaya pati, seperti olahan tepung yang dimasak pada suhu yang tinggi yang dibakar atau digoreng.

Timbulnya kanker ginjal juga berkaitan dengan perubahan genetik. Pada kanker ginjal, 95% kasus memiliki perubahan pada lengan pendek kromosom nomor 3 sehingga dapat terjadi mutasi gen. Hal ini juga yang menjadi faktor pencetus penyakit VHL (Von Hippel-Lindau) (penyakit genetik yang menyebabkan pertumbuhan tumor dan kista di dalam tubuh).

Pentingnya deteksi awal

Kanker ginjal merupakan salah satu jenis kanker yang terjadi pada organ ginjal. Bila terlambat dideteksi, sel kanker bisa menyebar ke organ lain dan meningkatkan risiko. Karena itu, pendeteksian dini di stadium awal adalah jalan terbaik untuk mengurangi risiko terburuk.

Deteksi dan screening cepat kanker ginjal dapat dilakukan dengan pemeriksaan pencitraan, termasuk USG (ultrasound), CT (computed tomography) dan MRI (magnetic resonance imaging).

Skrining radioisotop, seperti PET (positron emission tomography) dan targeted imaging, digunakan untuk menilai penyebaran sel kanker ke organ lain seperti di tulang atau hati.

Pasien yang datang dengan kondisi kanker yang belum menyebar biasanya akan mendapatkan pembedahan bahkan sampai terapi transplantasi ginjal. Dalam masa pemulihan pasien akan cenderung mengalami kelemahan dalam aktifitas geraknya. Jika dibiarkan tanpa perubahan pola hidup dalam beraktivitas fisik pasien sangat berbahaya karena dapat berlanjut pada risiko penyakit kardiovaskuler seperti serangan jantung dan stroke.

Selain itu, 30% dari pasien setelah operasi akan berkembang ke kondisi metastasis alias sel menyebar dalam kurun waktu 16-23 bulan dan pasien memiliki tingkat tahan hidup selama lima tahun sebesar 10%. Pasien yang tidak mengalami kondisi metastasis memiliki ketahanan hidup lima tahun di atas 90%.

Olahraga dan hindari gula berlebihan

Pasien sangat dianjurkan untuk latihan fisik untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot serta kapasitas aerobik. Selain latihan fisik, pengaturan pola makan adalah bagian penting dari perubahan gaya hidup. Tujuannya adalah untuk meningkatkan status gizi, mempertahankan fungsi ginjal, mencegah terjadinya obesitas, diabetes tipe 2 dan hiperkolesterolimia.

Pasien perlu mengatur pola makan mengurangi asupan garam,gandum, sayuran dan buah buahan dan makanan berlemak. Minuman kaya gula seperti softdrink, minuman olahan susu, dan jus buah harus dibatasi. Untuk meningkatkan massa otot, pasien perlu mengkonsumsi makanan atau minuman berprotein.

Selain menghindari gaya hidup penyebab kanker ginjal, langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, terutama yang mengandung vitamin A, C dan E.

Namun bagi kondisi kanker ginjal yang sudah metastasis sangat perlu dirawat dengan pendekatan perawatan paliatif atau pelayanan kesehatan berfokus pada meringkankan gejala yang dirasakan pasien, dan bukan untuk memberikan kesembuhan.

The Conversation

Boby Febri Krisdianto, Nursing Lecturer, Universitas Andalas

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

_________________________________________________

Ilustrasi: People photo created by Racool_studio - www.freepik.com