Mencegah dan Mengatasi TORCH saat Hamil | OTC Digest
tokso_torch_hamil

Mencegah dan Mengatasi TORCH saat Hamil

TORCH (Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegallovirus, dan Herpes simplex) serupa momok bagi ibu hamil. “Idealnya, semua perempuan memeriksakan status TORCH saat merencanakan kehamilan,” ungkap dr. Irvan Adenin, Sp.OG dari RSIA Tambak, Jakarta. Sehingga bila ditemukan toksoplasmosis, bisa menjalani pengobatan dulu hingga selesai.

Sayangnya dari semua TORCH, hanya rubella yang ada vaksinnya. Bila melalui pemeriksaan, ibu ditemukan tidak memiliki imunitas terhadap rubella, lakukanlah vaksinasi MI atau MMR sesegera mungkin. “Tiga bulan kemudian setelah terjadi pembentukan antibodi, baru boleh merencakan kehamilan,” terang dr. Irvan. Vaksin MMR untuk dewasa bisa dilakukan satu kali, atau dua kali dengan jarak minimal 28 hari di antara dua dosis vaksin.

Selama hamil, usahakan tidak melakukan kontak yang terlalu dekat dengan orang yang menunjukkan gejala rubella. Sebagai informasi, rubella ditularkan melalui percikan bersin/batuk. Namun, rubella tidak selalu menimbulkan gejala. Gejala yang muncul biasanya berupa demam ringan, pembengkakan kelenjar, ruam kemerahan pada kulit, nyeri sendi, sakit tenggorokan, serta rasa panas di tenggorokan. Rubella, CMV maupun herpes merupakan infeksi virus, sehingga tidak ada obatnya. Pengobatan hanya untuk kondisi tertentu.

Untuk mencegah infeksi TORCH yang lain, maka sebelum dan selama kehamilan harus menghindari segala hal yang berisiko memunculkan infeksi TORCH. Tindakan pencegahan terus dilanjutkan selama periode menyusui, untuk menghindarkan bayi dari infeksi. Perlu diingat, beberapa penyakit bisa ditularkan oleh ibu melalui ASI (air susu ibu).

Toksoplasma hidup di dalam kista pada daging hewan, takizoid di darah, atau oosit yang bisa bertahan di tanah hingga lama. Untuk itu, hindari memakan sayuran dan dan daging/ungggas setengah matang untuk mencegah infeksi toksoplasmosis. Untuk buah, lebih aman kupas kulitnya. Makanan harus dimasak >80oC untuk bisa membunuh kista toksoplasma. Tidak perlu mengusir kucing peliharaan di rumah. Yang perlu dihindari yakni membersihkan bak pasirnya, karena oosit toksoplasma keluar bersama feses kucing yang terinfeksi.

Bila ibu ditemukan terinfeksi saat hamil, pengobatannya dengan spiramycin (bila janin belum terkena). “Bila janin sudah terkena, biasanya ditambah dengan pyrimethamine dan sulfadiazine,” ujar dr. Irvan. Pengobatan akan mengurangi keparahan kelainan, dengan mencegah parasit merusak janin lebih berat lagi. Namun, kerusakan yang telah terjadi tidak bisa diperbaiki dengan obat.

Adapun cytomegallovirus (CMV) bisa menular bila selaput lendir terkena kontak dengan air liur, urin, darah, dan mukus (lendir) penderita CMV. “Ibu hamil sebaiknya jangan mencium-cium anak kecil,” ujar dr. Irvan. Anak usia batita banyak yang memiliki CMV di hidung. Gejala seperti flu pada anak kecil bisa jadi disebabkan oleh CMV.

Pastikan untuk tidak berbagi sikat gigi, makanan/minuman, serta peralatan makan dengan anak-anak, serta tidak mengisap dot anak untuk membersihkannya. Cucilah tangan dengan sabun setelah mengganti popok bayi. Gunakan kondom saat berhubungan intiml, karena CMV bisa ditularkan melalui hubungan seksual.

Bila ibu didiagnosis memiliki CMV saat hamil, dokter mungkin akan mempertimbangkan persalinan secara Caesar, karena CMV bisa ditularkan dari ibu ke bayi melalui proses persalinan per vagina. Perlu berkonsultasi dengan dokter dan konselor laktasi mengenai pemberian ASI pada bayi, bila ibu memiliki CMV, karena virus ini juga bisa ditularkan melalui ASI.

Hingga kini, belum ada obat yang ditujukan untuk pasien MCV yang daya tahan tubuhnya normal. pengobatan ditujukan untuk orang dengan kondisi imunokompromis (daya tahan tubuh rendah) misalnya penderita HIV/AIDS, di mana CMV telah mengancam jiwanya. “Penyakit diobati karena mengancam nyawa ibu, tapi tidak ada obat untuk melindungi janinnya,” tandas dr. Irvan.

Mengenai herpes simplex, ada dua macam virus: HSV 1 dan HSV 2. Yang lebih dikhawatirkan biasanya HSV 2 atau tipe genital, terlebih saat hamil. HSV 2 utamanya menular lewat hubungan seksual. Gawatnya lagi, “HSV 2 bisa juga menular melalui kontak dengan dudukan toilet yang terkontaminasi virus tersebut.” Maka untuk mencegah tertular, sebisa mungkin hindarilah kontak dengan air liur pasien herpes, serta lepuhan (blister)-nya.

Yang dikhawatirkan bila ibu memiliki herpes simplex yakni saat proses persalinan. Bila pada saat itu sedang timbul lepuhan herpes di area jalan  ahir, bayi bisa tertular akibat kontak langsung dengan lepuhan tersebut, dan mengalami herpes neonatal.

Bila ibu memiliki herpes simplex, dokter biasanya akan meresepkan obat acyclovir beberapa minggu sebelum persalinan. Hal ini bisa mencegah terjadinya infeksi aktif selama proses persalinan, dan ditengarai bisa mengurangi kebutuhan akan persalinan secara Caesar. Namun belum diketahui apakah pengobatan dengan acyclovir sebelum persalinan bisa mencegah infeksi herpes pada bayi baru lahir.

Memang idealnya, kehamilan dipersiapkan sebaik mungkin sejak dini. Namun seandainya didiagnosis TORCH saat hamil, jangan berputus asa. Dampaknya terhadap janin memang sangat mengkhawatirkan, tapi sebenarnya kemungkinannya kecil; belum tentu janin ikut terdampak. Yang penting rutin berkonsultasi dan menjalani anjuran dokter kandungan. (nid)

_________________________________

Ilustrasi: Baby photo created by onlyyouqj - www.freepik.com