Risiko Anak “Stunting” Akibat Puree | OTC Digest
puree_risiko_stunting

Risiko Anak “Stunting” Akibat Puree

Coba ketikkan kara kunci “puree MPASI” di mesin cari Google. Akan keluar begitu banyak resep puree. Di situs cookpad.com saja, ada setidaknya lebih dari 600 resep puree. Pada dasarnya, puree adalah sayur/buah yang dihaluskan. Yang sering digunakan untuk MPASI (makanan pendamping ASI) antara lain brokoli, wortel, waluh, pisang, dan alpukat.

Puree memang jadi tren beberapa tahun belakangan ini, seiring dengan makin populernya tren gaya hidup sehat berbasis back to nature dan vegetarian. Puree bukannya tidak sehat. Namun bila dibuat hanya dari sayur dan buah, atau dengan sedikit tambahan ASIP/susu formula sebagai MPASI, ternyata menempatkan anak dalam risiko stunting!

Baca juga: Tren Bubur Bayi "Organik", Ini yang Perlu Dikritisi

Ini diungkapkan oleh Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, Sp.A(K), Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM. “Pertumbuhan anak itu sangat pesat dalam satu tahun pertama. Dan yang sangat dibutuhkannya adalah asam amino esensial lengkap, yang hanya terdapat pada protein hewani. Di masa awal, anak tidak terlalu banyak membutuhkan buah dan sayur,” tuturnya, dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Ngobras di Jakarta, Rabu (18/07/2018). Protein nabati seperti kacang kedelai juga mengandung asam amino esensial, tapi tidak lengkap.

 

Anak butuh protein hewani

Sejak usia 1 tahun hingga remaja, tulang-tulang panjang (di tungkai dan lengan) tumbuh pesat. “Pada ujung-ujung tulang panjang terdapat lempeng pertumbuhan. Lempeng ini yang akan bertambah, sehingga tulang makin panjang,” terang Dr. dr. Damayanti.

Untuk membentuk lempeng ini dibutuhkan energi dan protein. Protein berperan untuk membawa hormon pertumbuhan atau growth hormone (GH) yang diproduksi di hati, ke lempeng pertumbuhan dan otot, sehingga tubuh makin panjang. Maka bila tidak ada protein, tidak ada yang mengangkut.

Pentingnya protein hewani dalam tumbuh kembang anak sudah dibuktikan dalam berbagai penelitian. Misalnya pada penelitian yang dilakukan di Papua New Guinea. Di sana, makanan utama berupa umbi-umbian. Ketika asupan makanan anak ditambah margarin atau sumber lemak lain, tinggi badan (TB) tidak bertambah. Ketika asupan karbohidrat yang ditambah, tinggi naik sedikit tapi kadar lemak ikut naik. “Begitu asupan makanan ditambahkan susu, tinggi badan naik, sebaliknya kadar lemak turun,” jelas Dr. dr. Damayanti.

Baca juga: Memberi Suplemen Zat Besi sampai MPASI Pabrik, Bukan Berarti Ibu yang 'Jahat'

Penelitian lain misalnya dilakukan di Uganda, membandingkan dua desa. Satu desa memiliki pola makan vegan, dan desa lainnya memiliki pola makan dengan daging dan susu. Saat anak berusia 36 bulan, yang berasal dari desa pemakan daging memiliki tubuh lebih tinggi daripada yang berasal dari desa vegan. Sebaliknya, kadar lemak lebih tinggi pada anak dari desa vegan. “Asupan karbohidrat yang berlebihan akan disimpan dalam bentuk lemak, sehingga anak menjadi gemuk,” ucap Dr. dr. Damayanti.

Jumlah asupan protein juga berpengaruh. Seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Kabir di Pakistan. Perbandingan asupan protein dengan total kalori harus 15%. Bila kebutuhan anak 1.000 kkal, maka 15% (150 kkal) berasal dari protein, atau setara dengan 37,5 gr protein. Ini harus berasal dari protein hewani, karena mengandung asam amino esensial yang lengkap. Ternyata anak yang mengonsumsi protein >15% memiliki perawakan lebih tinggi.

Penelitian di sekitar RSCM menemukan, asupan protein hewani susu dan non susu jauh lebih sedikit pada anak stunting dibandingkan yang tidak stunting. Sedangkan asupan protein nabati tidak berbeda antara dua kelompok. Namun sayangnya, penelitian Dr. dr. Damayanti menemukan, dari 300 batita, 76% di antaranya mengasup protein hewani kurang dari 15%.

Baca juga: Pemberian Tepung Bayi Rawan Sebabkan Defisiensi Besi

Tentu, asupan protein tidak bisa berdiri sendiri. Pada dasarnya, asupan anak harus lengkap dan seimbang. Tidak hanya protein tapi juga energi, karbohidrat, lemak, dan mikronutrisi (vitamin dan mineral). “Sehingga, protein yang dimakan bisa digunakan untuk tumbuh,” terang Dr. dr. Damayanti. Bila asupan energi kurang, protein tidak digunakan untuk tumbuh, melainkan untuk sumber energi.

Piring gizi anak pun berbeda dengan dewasa. Piring gizi anak mengacu pada ASI, atau produk susu. Anak butuh asupan protein dan lemak lebih banyak, sedangkan kebutuhannya akan sayur dan buah tak perlu terlalu banyak.

Melihat tren puree, maka ancaman stunting tidak hanya mengintai keluarga tak mampu, tapi juga keluarga kelas menengah dan tingkat pendidikan yang bagus. Hanya karena kurangnya pemahaman mengenai nutrisi di awal kehidupan anak.

“Kita bisa mencegah stunting dengan makanan yang baik sejak awal. MPASI harus mengandung protein hewani,” tegas Dr. dr. Damayanti. Tidak harus ikan salmon atau susu yang mahal. “Pergunakanlah bahan makanan di sekitar kita. Ikan kembung itu bagus sekali,” imbuhnya. Sumber protein lain yang terjangkau misalnya hati ayam, telur, dan segala jenis ikan di pasar.

Silakan memberi puree sebagai MPASI, tapi tambahkan sumber protein hewani dalam jumlah yang cukup. (nid)

___________________________________

Ilustrasi: MapleHorizons / Pixabay.com