Pemeriksaan Fungsi Ginjal | OTC Digest
tes_pemeriksaan_fungsi_ginjal

Pemeriksaan Fungsi Ginjal

Pemeriksaan urin dipakai untuk mengetahui kondisi ginjal. Berikut ini beberapa hal yang perlu diketahui untuk dalam penilaian tes urin.

Proteinuria, protein dalam urin

Ginjal sehat mengambil ‘sampah’ keluar dari darah, tetapi meninggalkan protein. Bila ada kerusakan, ginjal gagal memisahkan protein darah (albumin) dari ‘sampah’.

Awalnya hanya sejumlah kecil albumin bocor ke dalam urin; kondisi ini disebut mikroalbuminuria. Seiring memburuknya fungsi ginjal, jumlah albumin dan protein lain di urin meningkat (disebut proteinuria).

“Bila protein dalam urin positif dan terjadi lebih dari 3 bulan, orang tersebut bisa dikatakan mengalami penyakit ginjal kronis,” jelas dr. Dharmeizar, SpPD-KGH.

Hematuria, darah di urin

Hematuria bisa diketahui melalui pemeriksaan mikroskopik atau dengan mata telanjang. Jika darah sangat banyak, urin berwarna merah. “Hematuria bisa karena perdarahan di saluran kemih atau terjadi kerusakan pembuluh darah di ginjal sehingga ginjal tidak dapat menjalankan fungsi filtrasinya,” jelas dr. Dharmeizar.

Osmolaritas, kepekatan urin

Osmolaritas penting dalam mendiagnosis kelainan fungsi ginjal. Untuk deteksi,  seseorang tidak boleh minum air atau cairan lain selama 12-14 jam. Pada tes lain, diberikan suntikan hormon vasopressin lalu kepekatan urin diukur. Bila normal, di kedua tes urin sangat pekat; tetapi pada penyakit ginjal tertentu, urin menjadi sangat encer.

Kreatinin

Kreatinin adalah produk limbah yang dibentuk oleh kerusakan sel-sel otot normal. Ginjal sehat mengambil kreatinin darah dan memasukkannya ke urin untuk meninggalkan tubuh. Ketika ginjal tidak bekerja dengan baik, kreatinin menumpuk dalam darah.

“Bila pada tes urin ditemukan kadar kreatinin positif, orang tersebut sudah mengalami penyakit ginjal kronis tingkat lanjut,” kata dr. Dharmeizar.

Pemeriksaan darah

Selain pemeriksaan urin, bisa dilakukan pemeriksaan darah untuk mengukur nitrogen urea darah (blood urea nitrogen/BUN) dan kadar kreatinin darah. Jika ginjal tidak bekerja, kadar kedua zat itu meningkat dalam darah.

Urea adalah ampas dari metabolisme protein, dibentuk oleh hati, kemudian disaring oleh ginjal dan dikeluarkan melalui urin. Tingkat BUN dalam darah dapat menandai masalah ginjal. Karena juga dipengaruhi oleh fungsi hati, tes harus dilakukan bersamaan dengan pengukuran kreatinin, yang lebih khusus menandai masalah ginjal.

Laju penyaringan ginjal bisa diperkirakan melalui tes Creatinine Clearance. Tes ini lebih akurat, karena menggunakan rumus yang menghubungkan kadar serum kreatinin dengan usia, berat badan dan jenis kelamin.
 

Pemeriksaan lanjutan

Pemeriksaan lanjutan untuk mengenali kelainan ginjal. berupa pemeriksaan imaging – radiologis dan biopsi ginjal. Biasanya pemeriksaan ini atas indikasi tertentu dan sesuai saran dokter. Prosedur imaging – radiologis  dapat memperlihatkan gambaran mengenai ukuran ginjal, letak ginjal dan adanya penyumbatan atau kerusakan ginjal.

Pemeriksaan ini yakni foto polos abdomen, rontgen, USG, CT Scan dan sebagainya. Ada pun prosedur biopsi ginjal, mengambil contoh jaringan ginjal dan diperiksa dengan mikroskop. Prosedur ini dilakukan untuk memperkuat diagnosis dan menilai hasil pengobatan. (puj)

Baca juga : Kenali Tanda Gangguan Ginjal