Memahami Hemodialisis sebagai Terapi Pengganti Ginjal
hemodialisis_terapi_pengganti_ginjal

Memahami Hemodialisis sebagai Terapi Pengganti Ginjal

Perlahan tapi pasti, penyakit ginjal akan terus berkembang hingga tahap akhir (PGTA) atau disebut juga gagal ginjal. Dalam kondisi ini, ginjal tidak mampu lagi bekerja menyaring darah sebagaimana mestinya untuk mengeluarkan racun, air dan elektrolit keluar dalam bentuk urin. Namun demikian, ini bukan akhir hidup. “Meski sudah gagal ginjal, tidak boleh gagal hidup. Ada terapi pengganti,” tegas dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH konsultan ginjal dan hipertensi.

Fungsi ginjal yang rusak bisa digantikan dengan terapi pengganti ginjal. Ini dibutuhkan oleh pasien PGTA dengan fungsi ginjal <6%, dengan atau tanpa gejala klinis. Dulu dianggap, makin cepat dilakukan dialisis, akan lebih baik. “Setelah direevaluasi, ternyata tidak demikian. Sekarang batasnya adalah 6%,” ucap dr. Tunggul. Atau, fungsi ginjal <15% dengan gejala klinis seperti sulit menerima makanan sehingga kekurangan nutrisi, mual, muntah, sesak nafas, Hb (sel darah merah) rendah, dan lain-lain. Maka begitu penyakit ginjal masuk stadium 5, segera dilakukan analisis mengenai fungsi ginjalnya.

Ada dua pilihan terapi pengganti ginjal: dialisis dan transplantasi (cangkok). Dialisis sendiri dua macam, yakni hemodialisis (HD) atau kerap disebut ‘cuci darah’ yang dilakukan di luar tubuh, dan dialisis peritoneal (CAPD) yang dilakukan di dalam perut.

 

Hemodialisis

HD dilakukan dengan mengeluarkan sebagian darah dari tubuh ke dialiser, alat yang bertugas menggantikan fungsi ginjal menyaring darah. Dialiser berbentuk silinder, terdiri dari dua kompartemen (ruang). Satu kompartemen berisi darah yang masuk dari tubuh pasien, kompartemen lain berisi cairan dialisat yang berfungsi menarik keluar zat-zat buangan dari darah. Dua kompartemen ini dipisahkan oleh membran dengan lubang-lubang super kecil yang berfungsi seperti saringan; hanya racun, elektrolit dan air yang dapat melewatinya. Molekul dengan berat >3 milimikron seperti sel darah, protein darah dan vitamin tidak bisa melewati membran ini, sehingga tidak akan tersaring keluar. Darah yang sudah bersih kemudian dialirkan kembali ke tubuh.

Orang dengan PGTA perlu menjalani HD secara rutin dan berkala. Begitu ditentukan bahwa ia membutuhkan terapi pengganti ginjal, maka seumur hidup perlu menjalani terapi. “Tidak ada lagi cerita untuk memperbaiki penyakitnya. Tujuannya yakni menyelamatkan nyawa,” papar dr. Tunggul.

Umumnya HD dilakukan dua atau tiga kali seminggu, 3-5 jam untuk tiap prosedur. Ibaratnya setelah HD, ada jeda selama beberapa hari bagi pasien untuk membiarkan ‘sampah’ menumpuk. Setelah itu pasien datang lagi ke RS untuk membersihkan sampah yang telah menumpuk, begitu seterusnya. Bila HD terlambat atau dihentikan, semua zat sisa yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal menumpuk. Tubuh akan keracunan, bengkak, fungsi paru-paru dan jantung pun terganggu akibat penumpukan cairan.

Dari total 5,6 – 6,8 liter darah, hanya 0,5 liter yang dibersihkan melalui HD. HD hanya menggantikan fungsi ginjal dalam menyaring darah, tidak memproduksi hormon-hormon yang dihasilkan ginjal. Karenanya, perlu mengonsumsi obat/vitamin tertentu untuk menjaga tekanan darah, produksi sel darah merah dan kekuatan tulang.

Lantas, seperti apa prosedur yang disebut CAPD? Simak artikel selanjutnya. (nid)