Panduan Puasa Bagi Penderita Diabetes | OTC Digest

Panduan Puasa Bagi Penderita Diabetes

Ramadan ibarat tamu yang selalu ditunggu-tunggu umat Islam. Tapi bagi penderita diabetes, kadang timbul rasa was-was apakah bisa menjalankan ibadah puasa dengan optimal. Ada batasan boleh /tidaknya penderita diabetes menjalankan puasa.  

Waktu berpuasa yang panjang (sekitar 13-14 jam) diikuti dengan kebiasaan buka puasa (serba manis, gorengan dan bersantan) dengan porsi besar, bagi penderita diabetes akan meningkatkan risiko hipoglikemi (gula darah rendah), hiperglikemi (gula darah tinggi), atau dehidrasi dan trombosis (sumbatan di pembuluh darah).

“Risiko hipoglikemi naik sampai 7,5 kali, dan hiperglikemi sampai 5 kali dibanding pada kondisi biasa,” papar dr. Wismandari Wisnu, SpPD, K-EMD, FINASIM, pada bincang-bincang Meraih Kesempurnaan Ibadah Puasa Dengan Tetap Sehat Jasmani, di Jakarta (9/5/2018).

Terdapat banyak faktor yang menentukan penderita diabetes boleh/tidak berpuasa.

Tidak boleh puasa

Ada beberapa hal yang menyebabkan penderita diabetes memiliki risiko sangat tinggi jika puasa sehingga tidak diperbolehkan puasa. Yakni jika mengalami satu atau lebih dari hal-hal sebagai berikut  :

1. Gula darah rendah sekali dalam 3 bulan sebelum puasa.

2. Dalam 3 bulan sebelum bulan Ramadan pernah mengalami ketoasidosis (KAD). Ini adalah komplikasi diabetes yang berbahaya, gula darah sangat tinggi sehingga menimbulkan gejala kesulitan bernapas, rasa dehidrasi, mengantuk dan yang paling berat keadaan koma.

3. Atau mengalami komplikasi hyperosmolar hyperglycemic state (HHS) dalam 3 bulan terakhir. Komplikasi HHS termasuk berbahaya, karena penderita mengalami hiperglikemia parah, disertai dehidrasi dan darah menjadi sangat kental.

4. Ada riwayat hipoglikemik berulang, baik yang disadari atau tidak.

5. Diabetes tipe 1 yang tidak terkontrol.

6. Menderita penyakit akut, seperti radang paru (pneumonia), dll.

7. Diabetes dengan kehamilan atau diabetes gestasional yang diobati dengan glibenclamide/glimepiride atau insulin.

8. Penderita gagal ginjal kronik stadium 4 & 5, atau yang sudah harus menjalani hemodialisa (cuci darah).

9. Menderita komplikasi jantung, stroke atau kaki diabetes yang lanjut.

10.Penderita diabetes usia lanjut dengan kondisi tidak sehat.

Sebaiknya tidak puasa

Selain kelompok yang tidak boleh puasa, masih ada golongan dengan risiko tinggi yang sebaiknya tidak puasa.  Mereka adalah yang dengan karakteristik sebagai berikut :

1. Penderita DM tipe 2 yang tidak terkontrol.

2. DM tipe 1 yang terkontrol baik.

3. DM tipe 2 terkontrol baik yang memakai insulin campuran.

4. Diabetes dengan kehamilan yang terkontrol baik dengan diet atau obat metformin saja.

5. Mengalami gagal ginjal kronis stadium 3.

6. Komplikasi jantung, stroke dan kaki diabetes yang stabil.

7. Memiliki penyakit penyerta seperti kolesterol atau hipertensi.

8. Pasien diabetes yang memiliki aktifitas fisik berat.

“Pada pasien dengan risiko sangat tinggi / tinggi atau penderita DM tipe 1, jika tetap ingin puasa, sebaiknya sering-sering cek gula darah, yakni saat sahur, jam 12.00 siang, jam 5.00 sore dan tengah malam,” ujar dr. Wismandari.             

Yang boleh puasa

Penderita diabetes yang aman berpuasa atau memiliki risiko sedang/rendah adalah mereka yang mendapatkan satu jenis obat oral / insulin basal (bekerja dalam waktu panjang).

Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah modifikasi pengobatan. Untuk metformin dosis 1x per hari tidak diperlukan perubahan dosis, diminum saat buka puasa. Dosis 2x per hari dikonsumsi waktu sahur dan buka. Sedangkan metformin dosis 3x per hari, pagi hari diminum sebelum sahur,  dan dua lainnya dikombinasikan di malam hari.

Sedangkan yang harus minum obat jenis sulfonilurea (glimepiride, glibenclamide, dll), untuk dosis 1x per hari dikonsumsi saat sahur, dan pada mereka dengan gula darah terkontrol dosis bisa dikurangi. Pada dosis 2x sehari saat dikonsumsi di waktu sahur dan buka; dosis sahur bisa dikurangi jika gula darah terkontrol.

“Sedangkan pada yang mengomsi obat sulfonilurea generas awal, seperti glibenclamide, karena lebih berisiko mengalami hipoglikemik sebaiknya dihindari. Obat generasi kedua seperti glimepiride lebih dianjurkan,” tambah dr. Wismandari.

Di satu sisi dalam kondisi hipoglikemi (gula darah < 70 mg/dl) atau jika gula darah >300 mg/dl, dianjurkan untuk segera membatalkan puasa.

Pola makan yang dianjurkan

Saat puasa tetap dianjurkan mengonsumsi gizi seimbang, dengan komposisi buah/sayur setengah piring, karbohidrat kompleks ¼ piring dan sisanya lauk (protein).

Baca juga : Tips Bugar Saat Puasa

“Puasa hanya perubahan waktu makan, tidak ada pembatasan kalori. Makan kolak boleh asal jangan banyak-banyak, kurma sekitar 3 biji saja. Boleh minum susu, tapi tidak dianjurkan minum jus buah,” pungkas dr. Wismandari. (jie)