Kebiasaan Buruk Ini Mengancam Kesuburan Laki-laki | OTC Digest

Kebiasaan Buruk Ini Mengancam Kesuburan Laki-laki

Banyak hal yang bisa memicu terjadinya infertilitas (ketidak suburan) pada laki-laki. Salah satunya, kebiasaan buruk atau pla hidup yang kurang baik. Misalnya merokok, pola makan yang kurang baik, dan stres. Masing-masing memiliki peran berbeda dalam mengganggu kesuburan laki-laki, tapi ada satu benang merahnya, yakni peningkatan radikal bebas yang disebut ROS (reactive oxygen species).

Secara alami, ROS dihasilkan oleh tubuh, dan spermatozoa pun membutuhkan ROS dalam jumlah kecil. Namun pola hidup seperti yang telah disebutkan, dapat meningkatkan kadar ROS hingga tahap merugikan. “ROS menjadi dugaan pertama dalam kasus infertilitas pada laki-laki, dan ada kecenderungan meningkat,” ungkap dr. Nur Hafiz Ramadhona, Sp.And dari RS YPK Mandiri, Menteng, Jakarta.

Dampak ROS terhadap sperma tidak main-main. “ROS bisa mengurangi jumlah dan gerakan sperma, dan mengubah bentuk sperma. DNA sperma pun jadi rapuh dan terfragmen,” papar dr. Rama, begitu ia disapa. Sperma dengan DNA yang terfragmen mudah rusak ketika dilakukan sperm washing untuk keperluan inseminasi. Fragmentasi bisa terjadi secara spontan, atau terjadi ketika sperma diproses di lab, karena begitu rapuh.

Rokok begitu besar pengaruhnya terhadap kesuburan laki-laki. Gawatnya lagi, tak hanya perokok aktif yang terancam; perokok pasif pun menghadapi risiko yang sama. ROS yang ditimbulkan asap rokok mengganggu fungsi sperma, sekaligus menurunkan kadar antioksidan dalam tubuh.

Secara umum, rokok berdampak negatif pada jumlah, motilitas, dan morfologi sperma. Sebuah studi meta-analisis skala besar yang melibatkan laki-laki dari 26 negara/wilayah berkesimpulan bahwa merokok menyebabkan penurunan kualitas sperma. Konsentrasi sperma pada perokok pun lebih rendah 13-17% ketimbang yang tidak merokok.

Adapun pola makan yang buruk lambat laun memicu obesitas dan diabetes mellitus tipe 2 (DM2). DM2 sendiri turut meningkatkan kadar ROS. Memang, “Tidak semua diabetes menyebabkan permasalahan pada sperma, tapi potensi untuk terjadinya sperma jelek, lebih besar,” ujar dr. Rama. Selain itu, studi oleh Damayanthi Durairajanayagam (Arab Journal of Urology, 2018) menemukan, kelebihan berat badan dan obesitas berkaitan dengan penurunan kualitas sperma dan risiko infertilitas. Pada lelaki obes, persentasenya lebih besar untuk memiliki sperma dengan DNA fragmentasi dan morfologi abnormal.

Stres juga berperan besar dalam meningkatkan kadar ROS. Kebiasaan bergadang, kurang istirahat, dan tekanan di pekerjaan turut andil dalam menimbulkan stres, fisik maupun psikis.

Selain faktor gaya hidup, faktor lingkungan juga berperan meningkatkan ROS. Tingkat polusi di kota-kota besar Indonesia sudah mencapai taraf mengkhawatirkan. Jakarta bahkan pernah dinobatkan sebagai kota paling berpolusi di dunia. Pelan tapi pasti. Kadar ROS akan naik dengan rutinitas menghabiskan banyak waktu berkendara—terlebih dengan sepeda motor—selama pergi-pulang kantor.

 

Peran antioksidan

ROS merupakan radikal bebas, maka untuk menetralisir dampak buruknya, dibutuhkan asupan antioksidan. Menurut pengalaman dr. Rama, antioksidan biasa diberikan sebagai terapi lini pertama pada pasien yang datang dengan keluhan sekian tahun menikah tapi tak juga memiliki momongan. “Jadi biasanya kita singkirkan dulu ROS; obati dengan suplemen antioksidan, sambil dilakukan pemeriksaan hormon dan berbagai pemeriksaan lain untuk menemukan penyakit atau kondisi lain,” tuturnya. Apalagi pengobatan dengan antioksidan mudah dan mudah dan sederhana, tidak melibatkan prosedur yang rumit.

Secara teori, sperma dihasilkan dalam 72 hari, maka idealnya pengobatan dengan antioksidan dilakukan selama minimal 72 hari. “Tapi kadang sebelum 72 hari istri sudah berhasil hamil, atau sperma sudah membaik, meski dosis obat belum mencapai titik maksimal,” terang dr. Rama. Selama waktu ini dilakukan pemantauan, apakah suplemen antioksidan berhasil memperbaiki kondisi sperma.

Gaya hidup juga perlu diperbaiki. “Selain mengonsumsi suplemen antioksidan, tingkatkan pula konsumsi makanan yang kaya akan vitamin A, C dan E. Juga berlatih fisik secara teratur untuk menurunkan stres, yang akan mengurangi ROS,” papar dr. Rama.

Ada berbagai suplemen antioksidan khusus fertilitas. Misalnya yang mengandung Q10 atau bahan herbal tertentu, di samping kandungan antioksidan yang umum seperti berbagai vitamin dan mineral. (nid)

___________________________________________

Ilustrasi: Food photo created by pressfoto - www.freepik.com