CERDIK Lawan Neuropati 1 | OTC Digest

CERDIK Lawan Neuropati 1

Kesehatan saraf penting agar organ tubuh berfungsi optimal. Kerusakan saraf yang tak segera diperbaiki bisa bersifat permanen.

Kerja organ tubuh mulai kulit sampai jantung, diatur dan dikontrol oleh sistem saraf. Perintah melakukan ‘aksi’ diinisiasi saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang), diteruskan sampai organ-organ tubuh lewat sistem saraf tepi / perifer. Saraf yang menjulur dari sumsum tulang belakang ke anggota tubuh lain disebut juga akar saraf.

Ibarat kabel listrik, ‘kabel’ saraf terdiri atas 3 jenis saraf. Saraf sensorik untuk menerima rangsang dari luar tubuh, seperti panas- dingin atau kasar-lembut. Saraf motorik memungkinkan gerakan tubuh, sedangkan saraf otonom mengatur kerja organ secara otomatis (di bawah sadar), seperti jantung, ginjal, pencernaan dan pengeluaran keringat.

Saraf otonom terbagi menjadi simpatik dan parasimpatik. Saraf simpatik menciptakan respon tubuh dalam keadaan darurat: ‘melawan atau pergi’ (fight or flight). Saraf ini bekerja di mata, paru-paru, ginjal, jantung, dsb. Itu sebabnya ada peningkatan denyut jantung / keringat di waktu darurat. Saraf parasimpatik berperan di fase tubuh istirahat dan mencerna. Saraf ini bertanggung jawab untuk mewujudkan peningkatan air liur, produksi air mata, buang air kecil dan buang air besar.

“Kalau saraf otonomnya terganggu, kualitas hidup menurun jauh. Bayangkan jika tahu-tahu kencing, tidak bisa menahan BAB (buang air besar) atau menderita impotensi. Pasti depresi,” papar dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat. 

Gangguan/kerusakan sel saraf tepi disebut neuropati. Gejala awal berupa kesemutan atau kram berulang tanpa sebab. Normal kaki kesemutan bila kita duduk bersila terlalu lama, karena aliran darah ke kaki terhambat. Pada kasus neuropati, kesemutan terjadi tanpa sebab jelas.

Jika diabaikan, kesemutan yang awalnya jarang jadi makin sering. Lambat laun penderita mengalami baal (kebas), rasa terbakar spontan dan kulit mengkilap /kering (akibat rusaknya saraf otonom yang mengatur produksi keringat). Makin lama bisa menyebabkan mati rasa dan kelemahan anggota gerak.

“Regenerasi sel saraf lambat, 1mm/hari. Kerusakan serabut sel saraf > 50%, tak bisa dikembalikan. Perlu pencegahan dan pengobatan dini,” tegas dr. Luthy dalam seminar Bergerak Bersama #LawanNeuropati, Maret 2017.

Mereka yang berusia > 40 tahun, 26% lebih rentan mengalami neuropati, karena terjadi penurunan fungsi sel saraf akibat proses penuaan. Risiko bertambah pada penderita diabetes. Studi oleh Olsen (1999) menunjukkan, 50-70% penderita diabetes >10 tahun, mengalami neuropati.

Pada kelompok usia yang lebih muda, papar dr. Luthy, neuropati dipicu kurangnya asupan vitamin B, atau trauma misalnya saraf terjepit. Gerakan berulang seperti bermain gadget atau posisi tangan saat menggunakan mouse komputer terlalu lama menyebabkan gejala neuropati spesifik, yakni carpal tunnel syndrome (sindroma terowongan karpal). Jari tangan kesemutan, mati rasa atau nyeri akibat peradangan saraf di terowongan karpal (lorong sempit pada pergelangan tangan).  (jie)

 

Bersambung ke: CERDIK Lawan Neuropati 2