Cegah Pneumonia dengan Vaksinasi | OTC Digest
bayi_pneumonia_vaksinasi

Cegah Pneumonia dengan Vaksinasi

“Cara terbaik mencegah infeksi adalah dengan menghindari faktor risiko,” tegas Prof. Dr. dr. Cissy Kartasasmita, Sp.A (K), M.Sc, Ph.D dari RS Hasan Sadikin, Bandung. Ibu, berikan si kecil ASI (air susu ibu) eksklusif selama 6 bulan, agar daya tahan tubuhnya terbangun sejak dini. Dengan demikian, anak lebih kuat menghadapi serangan infeksi. Penyakit yang ditularkan melalui udara seperti pneumonia, sangat mudah menjangkiti anak bila daya tahan tubuhnya jelek.

Cukupi kebutuhan gizi anak, serta pantau pertumbuhan tinggi dan berat badannya dengan kurva pertumbuhan. Bawa anak ke Posyandu secara rutin agar tumbuh kembangnya bisa terpantau dengan baik. Di Posyandu, anak juga mendapat tetes vitamin A secara rutin (tiap bulan Februari dan Agustus), dan vaksin yang telah masuk ke program pemerintah. Yakni campak, DPT-HiB (difteri, pertusis, tetanus - H. influenza tipe B), hepatitis B, polio dan BCG.

“Ibu hamil harus memeriksakan diri minimal empat kali selama kehamilan, agar bayi yang dilahirkan sehat dan tidak BBLR (berat badan lahir rendah),” ucap dr. Christina Widaningrum, M.Kes, Kasubdit ISPA Kementerian Kesehatan. Bila ditemukan bahwa berat janin di dalam kandungan rendah, dokter atau bidan akan memperbaiki gizi ibu.

Kehamilan di usia muda (< 20 tahun) juga meningkatkan risiko karena di usia ini, tubuh permepuan belum terlau siap menerima kehamilan. Risiko pada kehamilan akan lebih tinggi, yang tentunya akan memengaruhi kesehatan bayi yang dilahirkan. Selain itu, atur jumlah anak dan jarak antar kelahiran. Makin banyak anak, rumah akan makin padat; risiko penularan pneumonia makin tinggi. Apalagi jika jarak anak terlalu dekat dan masih kecil-kecil.

Keluarga juga harus menjalankan pola hidup bersih sehat secara umum. “Terutama, cuci tangan pakai sabun,” tegas dr. Christina. Sebisa mungkin, hindarkan anak dari pajanan polusi udara. Alangkah baik bila anggota keluarga berhenti merokok. Studi menemukan bahwa anak yang terpapar asap rokok, empat kali lebih tinggi memerlukan rawat inap akibat masalah pernafasan. Juga, lindungi anak-anak dari cuaca dingin. Pada sebagian anak, udara yang dingin merangsang saluran nafas menyempit.

 

Peranan vaksinasi

Ketua UKK Respirologi PP-IDAI (Pengurus Pusat (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K) dengan tegas menyatakan, “Setiap anak berhak mendapat imunisasi.” Ia sangat menyesalkan, pertusis atau batuk rejan (batuk 100 hari) kini kembali merebak akibat gerakan anti vaksin, padahal penyakit ini sempat menghilang.

Infeksi oleh pneumokokus (S. pneumoniae), H. influenza tipe B (HiB), pertusis dan campak termasuk penyebab kematian pada anak yang sesungguhnya bisa dicegah dengan vaksinasi. Vaksinasi dari keempat penyakit ini juga berhubungan dengan pencegahan pneumonia. Diungkapkan oleh dr. Nastiti, “Pneumonia bisa dicegah dengan vaksinasi lengkap. Dengan tercakupnya semua vaksin ini, angka kematian akibat pneumonia bisa dikurangi.” Data menunjukkan, vaksinasi pneumokokus dan HiB bisa mengurangi infeksi pneumonia hingga 49%.

Campak sering dianggap biasa, tapi sebenarnya bisa meningkatkan risiko terhadap pneumonia. Komplikasi yang ditimbulkannya bisa berupa pneumonia. Di dalam tubuh, virus campak menghambat sistem imun dan menyebabkan paru-paru meradang, sehingga terjadi infeksi sekunder; pneumokokus dan HiB di nasofaring mudah masuk ke paru-paru dan menginfeksi. Berikan si kecil vaksin campak pada usia 9 bulan, lalu booster saat ia duduk di kelas 1 SD, melalui program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah).

Pertusis disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis yang merusak dinding saluran nafas, sehingga meski kumannya sudah hilang, batuk terus berlangsung sampai lama kemudian. Akibat batuk rejan, infeksi ileh bakteirlain (infeksi sekunder) bisa terjadi, misalnya pneumokokus penyebab pneumonia. Pertusis bisa dicegah dengan vaksin DPT. Masalahnya, “Pertusis sering terjadi pada anak di bawah usia vaksinasi,” ujar dr. Nastiti. Sehingga, anak bisa terkena penyakit ini bila lingkungan sekitarnya tidak divaksin DPT.

Adapun HiB merupakan penyebab kedua terbanyak untuk pneumonia, setelah pneumokokus. Saat daya tahan tubuh anak turun, kolonisasi HiB yang sebenarnya normal di rongga hidung dan tenggorokan, mulai berulah dan menyerang paru-paru.

Jadwal vaksinasi dasar DPT dan HiB sama. Berdasarkan jadwal IDAI, vaksin dasar DTP dan HiB yakni saat anak berusia 2-4-6 bulan. Booster (penguat) DPT diberikan dua kali, yakni ketika anak berusia 18-24 bulan dan 5 tahun; sedangkan booster HiB satu kali di usia 15-18 bulan. DPT-HiB bisa diberikan dalam satu vaksin pentavalen, yang terdiri dari lima vaksin sekaligus: DPT-HiB-hepatitis B atau DPT-HiB-polio. Sekali suntik, anak mendapat perlindungan terhadap lima penyakit sekaligus. Jadwal IDAI dipakai di RS atau praktik dokter.

Adapun di Posyandu, jadwal vaksin mengikuti Departemen Kesehatan. Jadwal DPT dan HiB sedikit berbeda dengan yang dikeluarkan IDAI, yakni saat anak berusia 2-3-4 bulan. Ini semata agar ibu lebih mudah mengingatnya, untuk kembali lagi sebulan kemudian. Juga digunakan vaksin pentavalen. Sudah masuk program pemerintah, sehingga bisa didapatkan gratis di Posyandu.

 

Pneumokokus

Ada 94 serotipe pneumokokus. Dari sekian jumlah ini, hanya beberapa serotipe tertentu yang paling sering menyebabkan pneumonia, dan vaksin yang tersedia dibuat berdasarkan serotipe tersebut. Vaksin pneumokokus tersedia dalam dua jenis: PPV ( Pneumococcal Polysaccharide Vaccine) dan PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine).

Kedua vaksin ini tidak mengandung organisme hidup. Pada PPV, digunakan sejumlah kecil polisakarida (gula) dari permukaan bakteri pneumokokus, yang diambil dari 23 serotipe berbeda. Polisakarida ini akan merangsang respon imun tubuh. PPV melindungi dari 23 serotipe pneumokokus. “Tapi baru bisa diberikan pada usia dua tahun ke atas, sedangkan pneumokokus banyak pada bayi usia kurang dari satu tahun,” tutur Prof. Cissy. PPV biasanya diberikan kepada orang lanjut usia (65 tahun ke atas), yang juga rentan mengalami pneumonia.

Prof. Cissy menambahkan, “Diperlukan vaksin yang bisa diberikan lebih cepat.” Karenanya, dibuatlah PCV. Ini adalah vaksin konjugasi, yang bisa diberikan pada anak sejak usia 2 bulan. Vaksin PCV mengkonjugasikan polisakarida dari permukaan pneumokokus dengan protein dari difteri. Ini dilakukan karena kalau hanya polisakarida saja, respon imun yang terbentuk pada bayi dan anak kurang baik. 

Awalnya, PCV tersedia dengan 7 serotipe berbeda (PCV 7). PCV 7 tidak ada lagi, digantikan dengan yang serotipenya lebih banyak. Yakni PCV 10 yang melindungi dari 10 serotipe pneumokokus, dan PCV 13 yang melindungi dari 13 serotipe.

Sedang dikembangkan vaksin pneumokokus whole cell, yang bisa melindungi dari semua strain. Vaksin sedang diujicoba di Kenya. Vaksin juga akan diujicoba di Indonesia, dan direncanakan masuk ke program pemerintah sehingga bisa diakses secara gratis.

Tentu, pencegahan adalah langkah terbaik. Lindungi anak, jangan sampai terserang pneumonia. “Kemungkinan tersering, anak gak keburu sampai ke pelayanan kesehatan,” tandas dr. Nastiti. (nid)