Bahagianya Sandra Dewi Melahirkan Anak Pertama (Bagian 1) | OTC Digest

Bahagianya Sandra Dewi Melahirkan Anak Pertama (Bagian 1)

 

Di penghujung tahun ketika orang bergembira dan bersiap menyambut Tahun Baru 2018, Sandra Dewi dibanjiri kebahagiaan tersendiri. Tanggal 31 Desember 2017 pukul 09.28, ia melahirkan anak pertamanya. Buah cinta dengan suaminya Harvey Moeis ini diberi nama Raphael Moeis. Lahir dengan bobot 3,2 kg dan panjang 50 cm, Rafa, begitu panggilan sayang bayi ganteng ini, tampak sangat menggemaskan. Ratusan ribu likes menghiasi foto-fotonya di akun Instagram Sandra Dewi.

Akhirnya, terungkap juga jenis kelamin si baby. Sebelumnya, Sandra Dewi merahasiakan rapat-rapat soal ini dari pers. Meski, ia sudah mengetahuinya sejak usia kehamilan 2,5 bulan. “Mukanya kayak apa, bentuk kuping dan hidungnya seperti apa, aku sudah lihat,” ujarnya saat dijumpai di peluncuran aplikasi Teman Bumil Akhir November lalu di Jakarta. Kala itu, usia kehamilannya sudah masuk 36 minggu. (Baca juga: Sandra Dewi Menghitung Hari)

Saat itu ia memperkirakan bayinya akan lahir besar, seperti suaminya yang lahir 4,5 kg dengan panjang 55 cm. “Perkembangan anak saya cukup pesat. Dalam dua minggu, bobotnya naik 1 kg dan panjangnya bertambah 6 cm,” ucapnya. Sampai dokternya bingung, Sandra makan apa? “Saya juga nggak tahu saya makan apa, hahaha.” Lebar panggul, panjang leher rahim dan kepala bayi nanti akan diukur, untuk menilai apakah memungkinkan persalinan dilakukan secara normal.

 

Sandra Dewi dan suami menimang Rafa. Foto diambil dari akun Instagram Sandra Dewi

 

Kontraksi dini hari, gagal tampil cantik saat melahirkan

Beberapa minggu menjelang persalinan, Sandra sempat khawatir. Pasalnya, due date-nya diprediksi antara 18 Desember – 2 Januari. Sedangkan, dokter kandungannya sudah menyatakan akan cuti Natal hingga akhir tahun. “Saya cuma bilang ke anak saya, mudah-mudahan dia dengar, ‘Tunggu ya Sayang, keluarnya pas dokter pulang aja’. Tapi mudah-mudahan pas lahiran ada dokter, siapa sajalah,” kelahiran Pangkal Pinang, 8 Agustus 1983 ini tersenyum.

Sangat beryukur, persalinannya berjalan lancar, dan ia bisa melahirkan secara normal seperti keinginannya. Bisa dibilang, persalinannya agak tidak terduga. “Saya tuh masih kerja sampai kehamilan 38 minggu, ada konferensi pers 20 Desember,” ucapnya. Ditambah lagi, ia dan suami baru saja pindah rumah pada 29 Desember.

Sibuk pindahan dan beberes rumah baru, Sandra mulai merasa mulas sejak pukul 9 malam pada 30 Desember. Ia bolak-balik ke toilet, tapi tidak juga BAB (buang air besar).  Tengah malam, suaminya mulai curiga jangan-jangan Sandra mengalami kontraksi. Tapi, Sandra bersikeras bahkan marah-marah, “Aku tuh mulas, bukannya mau lahiran!” Pukul 01.30 dini hari rasa mulas makin menjadi, hingga ia tidak bisa jalan. Berdiri sambil pegangan di washtafel, akhirnya ia bilang ke suami untuk mengantarnya ke rumah sakit.

Tiba di RS pukul 02, ia langsung dibawa ke ruangan bersalin, “Ternyata sudah bukaan tiga.” Mungkin sudah terjadi bukaan 1-2 di rumah, bahkan mungkin sejak sehari sebelumnya. Gagal total sudah rencananya untuk tampil cantik saat melahirkan. Padahal, ia sudah berencana agar wajah dan rambutnya dirias cantik, mendekor ruangan bersalin serta menyewa fotografer profesional untuk mengabadikan momen persalinannya.

Kenyataannya, ia bermandi peluh menghadapi bukaan 3 pada dini hari. “Tidak sempat dekor kamar, tidak sempat telepon fotograger. Sudahlah, yang penting mengabari keluarga agar mereka tahu kalau saya mau melahirkan,” tuturnya.

Akhirnya ditemani suami tercinta, ibu dan keluarga terdekat, Sandra berjuang melahirkan. Foto-fotonya selama persalinan adalah hasil jepretan asistennya. Ia bercerita, betul bahwa kata orang, sakitnya melahirkan itu aduhai, “Kayak mau mati, tapi nggak mati.” Semua ilmu yang dipelajarinya saat latihan pilates hamil, seperti hilang semua.

Bukaan 3 ke 4 berjalan sekitar 3 jam. Setelah itu, ia terus berjuang hingga bukaan 10, dari pukul 5 hingga akhirnya Rafa lahir pukul 09.28. “Ketika lihat bayinya, senang banget. Terbayarkan semuanya,”

Merasakan sendiri sakitnya melahirkan, Sandra jadi makin menyayangi orangtuanya, terutama ibu. “Sekarang saya baru merasakan jadi ibu, makanya sekarang kita semua harus sayang sama orangtua,” tandasnya.

Bagaimana Sandra Dewi menjalani kehamilannya? Banyak cerita. Mulai dari mual hebatsampai muntah 15 kali sehari, hingga ‘iri’ kepada suami karena Harvey tetap kece, sementara ia makin gemuk saat kehamilannya masuk 9 bulan. Simak ceritanya minggu depan. (nid)