Awas, Remaja Juga Berisiko Osteoporosis | OTC Digest

Awas, Remaja Juga Berisiko Osteoporosis

Osteoporosis merupakan suatu kondisi di mana tulang menjadi rapuh, tipis dan mudah patah. Ia tergolong silent disease alias penyakit yang tidak menunjukkan gejala apapun, sampai seseorang mengalami patah tulang.

Patah tulang pada kasus osteoporosis biasanya terjadi akibat benturan ringan, atau tubuh menjadi lebih pendek/bungkuk dalam waktu 3 bulan. Atau penderita mengalai nyeri tulang yang merata.

Secara alamiah wanita berusia lanjut berisiko tinggi mengalami osteoporosis, karena terjadi proses penghancuran tulang yang lebih cepat dibanding pembentukannya saat memasuki massa menopause. Namun begitu, pria berusia > 70 tahun juga memiliki risiko yang sama.

Osteoporosis juga bisa terjadi pada remaja. “Saya pernah menangani kasus osteoporosis pada remaja sekitar 18 tahun karena ia melakukan diet ekstrim,” terang dr. Ade Tobing, SpOK, Pengurus Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI), dalam seminar media dalam rangka Hari Osteoporosis, pada Jumat (19/10/2018).

Tidak bisa dipungkiri demi memiliki bentuk tubuh ideal, tak jarang seseorang (remaja) mengurangi porsi makan secara ekstrim. Risiko osteoporisis juga mengintai pada remaja yang melakukan olahraga berat dan sering (atlet), tanpa disertai asupan makanan yang mengandung cukup kalsium.

Kalsium merupakan mineral utama pembentuk sel tulang. Sumber kalsium alamiah banyak terdapat pada susu dan produk turunannya (keju atau yogurt), sayuran hijau, kacang-kacangan, ikan teri, biji wijen, dll.

“Pasien yang saya tangani ini ia sangat kurus (underweight). Kadar hormon estrogennya pun sampai hampir 0 (nol), ini membuatnya tidak bisa menstruasi,” terang dr. Ade. “Dengan perawatan dan latihan fisik intensif, pada bulan ke 6 bulan ia bisa menstruasi lagi.”

Hormon estrogen selain berperan dalam proses menstruasi juga merangsang pembentukan osteoblas (sel pembentuk tulang) dalam proses remodeling tulang. Sel tulang akan mengalami penghancuran alamiah (oleh sel osteoklas), untuk kemudian dibentuk kembali oleh osteoblas.

Olahraga seperti jogging, lari, basket, angkat beban atau senam aerobik diperlukan untuk menguatkan tulang (menambah kepadatan tulang).  

Risiko osteoporosis pada wantia muda telah diteliti secara luas. Salah satunya dilakukan oleh dr. Kathleen Szegda dari University of Massachusetts, Amerika Serikat. Wanita yang kehilangan berat badannya > 9 kg selama 3 kali dalam periode usia 18 - 30 tahun berisiko mengalami osetoporosis sebelum usia 45 tahun.

Dalam riset tersebut, wanita berusia 18 tahun yang sangat kurus (underweight), dengan indeks massa tubuh (IMT) <17,5 kg/m2 berisiko 50% lebih tinggi menderita menopause dini. Demikian pula wanita berusia 35 tahun dengan IMT <18,5 kg/m2, risiko menopause dini meningkat hingga 59%.

Dalam studi lanjutan diketahui wanita yang sangat kurus (IMT <18,5 kg/m2) di usia berapapun, berisiko 30% lebih tinggi mengalami menopause dini. Menopause dini meningkatkan risiko 10% lebih besar menderita kondisi medis seperti osteoporosis, penyakit kardiovaskular, dan penurunan fungsi kognitif.

Terapi untuk kasus osteoporosis pada remaja tidak hanya membutuhkan bantuan ahli gizi (untuk mengatur asupan kalsium), tetapi juga psikolog guna merubah pemahaman si penderita tentang konsep tubuh yang sehat. (jie)