ayo main jangan takut cacingan | OTC Digest

ayo main jangan takut cacingan

Bermain dan berkotor-kotor di tanah adalah hal yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Tapi kerap kali orangtua melarang anak untuk bermain dengan alasan takut kotor; menyebabkan cacingan.

Padangan tersebut tidak salah, tapi bukan pula sepenuhnya benar. Risiko masukkan cacing ke dalam tubuh (cacingan) tetap ada. Namun jangan dijadikan alasan melarang anak-anak bermain bebas di halaman; apalagi memainkan permainan tradisional.

Larva atau telur cacing masuk ke dalam tubuh melalui tanah yang tercemar. Selain itu, air yang kurang bersih, makanan, kuku yang kotor, serta benda-benda yang terkontaminasi dapat membantu penyebaran cacing atau larva.

Secara akumulatif jika terjadi dalam waktu lama, cacingan dapat menimbulkan kerugian terhadap kebutuhan zat gizi. Yakni berkurangnya penyerapan kalori, protein dan kehilangan darah; menyebabkan anemia.

Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja, cacingan juga dapat menurunkan daya tahan tubuh.

Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2013 menyatakan sekitar 28,8% anak-anak menderita cacingan. Data WHO (2016) menyebutkan, 55 juta anak Indonesia masih membutuhkan tindakan pencegahan cacingan.

“Solusinya gampang, cuci tangan dengan sabun setelah bermain, sebelum makan dan setelah buang air besar. Gunakan alas kaki ketika bermain, dan rutin minum obat cacing setahun dua kali,” papar Sakri Sabatmaja, SKM, MSi, Kepala Subdit Advokasi & Kemitraan Direktorat Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat.

Bermain di luar ruang

Permainan luar ruang seperti permainan tradisional sejatinya memberi manfaat yang lebih banyak dibanding dampak negatifnya (risiko cacingan).

Menurut Dr. Seto Mulyadi, SPsi, MSi, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), hakikat bermain adalah melakukan permainan aktivitas fisik yang menyenangkan. “Sayangnya saat ini anak-anak kurang bermain,” katanya.

Permainan luar ruang, khususnya permainan tradisional, seperti gobak sodor, bentengan, lompat tali atau egrang, akan melatih psikomotorik anak (keterampilan dan koordinasi jasmani, serta kemampuan fisik), sosial, emosional, moral dan kreativitas.

“Permainan tradisional biasanya dilakukan bersama-sama, sehingga akan ada masalah. Anak-anak akan berlatih menyelesaikan masalah, ini melatih emosional. Di sana juga dibutuhkan strategi permainan. Itu melatih sosial anak dan kreativitasnya,” tambah Seto Mulyadi dalam peluncuran Gerakan Nasional #JamMainKita di Hotel Pullman, Jakarta (21/3/2018).

Hal ini didasari keprihatinannya akan fenomena anak jaman now di mana mereka lebih senang bermain gawai di dalam rumah; membuat mereka tidak aktif dan kurang bersosialisasi.

Kurangi pemakaian gawai dan mulai beralih ke permainan tradisional. Hal ini tentunya tidak bisa terwujud tanpa peran serta orangtua. (jie)