4 Gejala Sindrom Genitourinari Menopause – Bagaimana Mengatasinya?

Estrogen dan progesteron adalah dua hormon utama perempuan. “Pada masa perimenopause (menjelang menopause), kondisi hormon sangat fluktuatif, meski kadar estrogen mungkin masih normal, dan akhirnya menurun saat menopause,” terang Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Sc dari RS Pondok Indah – Pondok Indah, pada diskusi media yang diselenggarakan pada Kamis (29/10/2026) di Jakarta.

Rendahnya kadar estrogen di masa menopause bisa menimbulkan gangguan pada area genital (kemaluan) dan urinari (saluran kemih), yang disebut sindrom genitourinari menopause (SGM). Ini adalah kumpulan gejala pada area urogenital, yang kerap dikeluhkan oleh perempuan menopause.

“Terminologi ini digunakan untuk menjelaskan gejala yang lebih luas pada area urogenital akibat menopause,” ujar dr. Astrid Yunita, Sp. O.G, Subsp. Urogin.Re. dari RS Pondok Indah – Pondok Indah. Sebelumnya, kondisi ini krap disebut sebagai atrofi vulvovaginal. Namun, para ahli kini menyebutnya sebagai SGM, karena keluhan yang dialami tidak terbatas pada vagina saja, tapi juga saluran kemih.

Ditengarai, lebih dari setengah perempuan menopause mengalami sindrom genitourinari menopause. Tak ayal, SGM menjadi salah satu keluhan yang paling banyak dialami oleh perempuan menopause.

Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Sc (kiri) dan dr. Astrid Yunita, Sp. O.G, Subsp. Urogin.Re dalam diskusi media di Jakarta / Foto: Hanida – OTC Digest

4 Gejala Sindrom Genitourinari Menopause

Berikut ini 4 gejala dari SGM, seperti dijelaskan oleh dr. Astrid.

1. Gejala seksual

Kadar estrogen sangat memengaruhi fungsi seksual perempuan. “Akibat kadar estrogen yang rendah, lubrikasi pada vagina pun berkurang, sehingga terasa tidak nyaman atau bahkan nyeri saat berhubungan seksual,” jelasnya.

2. Gejala urinari

Fungsi berkemih pun ikut terdampak. “Muncullah keluhan seperti sulit menahan pipis, anyang-anyangan atau sakit saat berkemih, dan infeksi saluran kemih berulang,” ujar dr. Astrid. Akibat penurunan kadar kolesterol, glycosaminoglycan yang melapisi dinding sauran kemih jadi menipis. “Jadi Ketika nahan pipis sebentar saja, bakteri bisa langsung menempel di dinding saluran kemih,” imbuhnya.

3. Gejala genital

Infeksi juga bisa terjadi pada vagina. “Gejalanya sama. Sakit, terasa panas, karena mukosa dinding vaginanya sudah kehilangan kolagen,” ujar dr. Astrid. Vagina terasa kering, sakit, dan mudah teriritasi. Inilah vaginal atrophy, di mana dinding vagina tipis, kering, pecah-pecah, bahkan bisa sampai berdarah. Keluhan nyeri hingga berdarah bisa terjadi bahkan tanpa adanya hubungan seksual.

4. Kualitas hidup dan seksualitas

Pada akhirnya, keintiman dengan pasangan, serta rasa percaya diri menurun. Juga terjadi gangguan tidur dan terganggunya fungsi sosial. Semua ini akan brdampak pada penurunan kualitas hidup perempuan.

Cara mengatasi

Secara umum, ada dua cara mengatasi SGM, yaitu dengan pengobatan konservatif dan terapi medis.

1. Cara konservatif

Cara konservatif antara lain dengan perbaikan pola makan. “Untuk memperbaiki kelembapan mukosa dan mengurangi inflamasi, disarankan yang kaya akan omega 3 dan mengandung antiinflamasi,” ucap dr. Astrid. Sumber omega 3 misalnya ikan berlemak seperti ikan iembung dan sarden, kacang-kacangan, dan biji-bijian (termasuk biji chia dan biji rami/flaxseed). Makanan yang mengandung zat antiinflamasi antara lain minyak zaitun, ikan, sayur, dan buah-buahan.   

“Makanan yang mengandung estrogen alami dari bahan nabati atau fitoestrogen juga diperlukan,” imbuhnya. Antara lain kacang kedelai, biji rami, miju-miju (lentil), dan kacang Arab (chickpea).

Untuk mencegah infeksi saluran kemih, konsumsilah sumber probiotik seperti yogurt, makanan yang kaya akan vigamin C, dan jus cranberry. “Cranberry bisa memperkuat lapisan mukosa saluran kemih sehingga bakteri tidak mudah kontak dengan dinding saluran kemih,” jelas dr. Astrid.

Jangan lupa cukupi kebutuhan air minum, sebanyak 1,5. – 2 liter/hari bila tidak ada kondisi medis yang perlu membatasi minum. Hindari konsumsi kafein berlebih dan makanan yang terlalu asam.

2. Terapi medis

Bila dibutuhkan, dokter bisa memberikan terapi sulih hormon (TSH). Hormon bisa berupa progesteron” saja, atau progresteron dan estrogen,” ucap dr. Kanadi. TSH hanya bisa diberikan atas resep dokter, dan penggunaannya dimonitor ketat oleh dokter.

Terapi hormon tidak hanya yang bersifat sistemik; ada juga yang lokal. Misalnya krim estrogen yang dioleskan pada area vagina. Terapi estrogen lokal menurunkan pH sehingga vagina menjadi lebih asam dan bakteri patogn sulit tumbuh. “Juga memperbaiki sel-sel epitel vagina jadi menebal, meningkatkan aliran darah, dan memperbaiki lubrikasi,” tutur dr. Astrid.

Sindrom genitourinari menopause bisa sangat menurunkan kualitas hidup. Jangan abaikan keluhannya, berkonsultasilah ke dokter kandungan. (nid)

_________________

Image by shurkin_son on Magnific

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *