Pengobatan Kanker Payudara Berbeda-beda, Tergantung Stadium dan Subtipenya

Kanker payudara masih menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di Indonesia, dan penyebab utama kematian pada perempuan akibat kanker. Hal ini menegaskan pentingnya deteksi dini, diagnosis yang tepat, serta penanganan yang sesuai karakteristik penyakit. Keterlambatan deteksi dan diagnosis masih menjadi tantangan dalam penanganan kanker payudara di Indonesia.

“Sebagian besar kasus kanker payudara ditemukan dalam stadium lanjut, sehingga angka keberhasilan pengobatan pun menurun,” ungkap Tim Kerja Penyakit Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular (PTM), Kemenkes RI, dr. Uswatun Hasanah, M.Epid dalam media & community gathering bertajuk “Every Story is Unique, Every Journey Matters”, dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara di Jakarta, Rabu (28/10).

Ia melajutkan, hal tersebut dipengaruhi oleh masih terbatasnya fasilitas layanan dan kesadaran mengenai deteksi dini yang masih relatif rendah. Kebijakan terkait deteksi dini oleh Kemenkes sudah dituangkan melalui rencana aksi nasional.

“Target Kemekes adalah 60% kasus kanker payudara bisa ditemukan di stadium awal. Dengan penemuan kasus yang lebih awal maka kesintasannya lebih tinggi dibandingkan yang ditemukan di stadium lanjut,” terang dr. Uswatun. Sayangnya, pada 2025 hanya tercapai 10%; masih sangat jauh dari target nasional 60%. Per 30 September 2026, capaiannya baru sekitar 16,19%.

Deteksi kanker payudara bisa dilakukan di Puskesmas melalui Cek Kesehatan Gratis. “Perempuan usia 30-69 tahun akan mendapatkan skrining atau deteksi kanker payudara. Jika ditemukan kasus  yang abnormal maka segera dirujuk ke FPKTL. Kemenkes juga sudah mengeluarkan pedoman tatalaksana kanker payudara ini bisa digunakan sebagai panduan tenaga medis dalam tatalaksana Kanker Payudara,” tutur dr. Uswatun.

Biopsi Penting untuk Mengetahui Subtipe Kanker Payudara

Setiap pasien kanker memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda, sehingga penanganannya memerlukan kolaborasi dari berbagai spesialisasi medis. Pasien memerlukan penanganan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Tidak hanya dari sisi pengobatan, tetapi juga kualitas hidupnya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, menjelaskan bahwa kanker payudara memiliki beberapa subtipe; antara lain Luminal A, Luminal B, HER2-positif, dan triple negative. Karakteristik tumor tersebut, bersama stadium penyakit, menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan terapi.

Untuk ngetahui subtipe kanker payudara, dibutuhkan pemeriksaan khusus. “Biopsi dan pemeriksaan lanjutan penting untuk mengetahui karakteristik tumor sehingga pasien dapat memperoleh pengobatan yang sesuai,” jelas Dr. dr. Jeffry. Biopsi merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan hasil diagnosis yang pasti. “Ini krusial untuk menentukan jenis dan sub tipe kanker, serta pengobatan yang sesuai,” tegasnya.

Selain subtipe, stadium kanker juga harus diketahui;apakah sudah ada penyebaran (metastasis). Ia menganalogikan kanker seperti rayap. “Kita harus mengetahui apa jenisnya, lalu cek seluruh rumah apakah ada di bagian lain. Inilah penentuan stadium,” ujarnya.

Pemeriksaan diagnostik dengan radiologi, patologi, molekuler, dan metode lainnya, diperlukan untuk mengetahui tipe sel kanker dan penyebarannya, karena masing-masing sel kanker punya sifat berbeda-beda.

Pendekatan Berbeda untuk Tiap Pasien

Ditegaskan oleh Dr. dr. Jeffry, pengobatan kanker bersifat spesifik dan individual. “Kalau belum ada penyebaran, benjolan kurang dari 2 cm, tidak dilakukan mastektomi di depan. Sekarang pengobatan dulu dengan kemoterapi misalnya, lalu operasi setelah tumor mengecil,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Dokter Spesialis Bedah Onkologi MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B (K) Onk. Dari segi bedah onkologi, tindakan operasi disesuaikan dengan kondisi pasien, dan mempertimbangkan seberapa besar ukuran tumor. Karenanya, perencanaan terapi baru dibuat setelah diagnosis ditegakkan melalui berbagai pemeriksaan.

Pilihan operasi antara lain mastektomi, yaitu pengangkatan seluruh jaringan payudara, dan Breast Conserving Surgery (BCT), yaitu operasi yang mempertahankan sebagian jaringan payudara. “Perkembangan teknologi dan metode bedah memberikan lebih banyak pilihan penanganan. Kolaborasi dengan tim bedah plastik dan rekonstruksi juga penting untuk mempertimbangkan bentuk payudara dan kualitas hidup pasien setelah operasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kini ada istilah deeskalasi terkait terapi. “Artinya menurunkan skala terapi. Misalnya operasi sekarang diutamakan menggunakan metode minimal invasif sehingga dampak dan efek sampingnya tidak terlalu berat, dan dilanjutkan dengan operasi rekonstruksi payudara untuk mengembalikan estetika bentuk dan fungsi payudara pasien. Semuanya bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien yang lebih baik,” tuturnya.

Ia melanjutkan, jika ditemukan secara dini, kanker memiliki kesempatan sembuh lebih baik. “Namun harus diingat bahwa kanker bukan penyakit lokal. Operasi bukan berarti menyelesaikan segalanya karena sel kanker biasanya berinvasi ke sel-sel lain di seluruh tubuh (metastasis). Itu yang harus kita cegah dengan melakukan diagnostik dini dengan deteksi dini, USG, mammografi, atau MRI,” pungkasnya. (nid)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *