Penelitian Wolbachia di Sleman dan Bantul | OTC Digest

Penelitian Wolbachia di Sleman dan Bantul

Penelitian mengenai Wolbachia dan demam berdarah dengue (DBD) di Sleman dan Bantul, Yogyakarta, didanai oleh Yayasan Tahija, Indonesia. Keduanya dipilih berdasarkan skala luasan, isolasi geografi, populasi Ae.aegypti, dan partisipasi masyarakat. Pertimbangannya antara lain kemampuan logistik dan pengelolaan penelitian. “Ae.aegypti adalah nyamuk rumahan dan penyebarannya dibatasi oleh ruang terbuka atau vegetasi,” ucap Prof. Adi Utarini, M.Sc, MPH, Ph.D, Ketua EDP (Eliminate Dengue Project)-Yogya yang juga dosen di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Isolasi dimaksudkan untuk menghambat masuknya nyamuk liar dari wilayah lain, dan perpindahan nyamuk ber-Wolbachia ke luar wilayah penelitian, sehingga perkembangan Wolbachia di dalam wilayah penelitian bisa lebih dimonitor. Lokasi penyebaran Wolbachia adalah yang secara alamiah sudah ada A. aegypti liar. “Diharapkan nyamuk ber-Wolbachia mau dan mampu kawin dengan nyamuk liar, dan penyebaran Wolbachia bisa terjadi,” terang Pro. Uut.

Faktor yang juga sangat penting adalah partisipasi masyarakat. Penelitian ini adalah inovasi baru, berupa pelepasan nyamuk; dukungan dan partisipasi masyarkat sangat diperlukan. “Dua tahun sebelum proses pelepasan nyamuk berskala terbatas, EDP(Eliminate Dengue Project)-Yogya telah melakukan serangkaian sosialisasi dan komunikasi penelitian kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan sejak akhir 2011,” paparnya. Sosialisasi dilakukan secara intensif melalui pertemuan warga, pertemuan individu dan juga melalui materi komunikasi tertulis seperti leaflet, poster dan koran masyarakat.

Januari 2014, dimulailah pelepasan nyamuk dewasa Ae. aegypti ber-Wolbachia di dua wilayah di Kabupaten Sleman (dusun Kronggahan dan Nogotirto). Pelepasan dilakukan di tempat-tempat terbuka di rumah warga yang terpilih dan bersedia untuk berpartisipasi, seminggu sekali selama 20 minggu (Januari-Juni 2014).

“Pemantauan pasca pelepasan selama lebih dari 2 tahun hingga saat ini menunjukkan bahwa Ae. aegypti ber-Wolbachia bertahan dan berkembang dengan baik di lingkungan alaminya; established dan suistanable,” jelas Prof. Uut. Melalui pemantauan secara terus menerus menggunakan BG Trap dan Ovitrap, diketahui bahwa frekuensi Wolbachia relatif sangat tinggi pada populasi Ae. aegypti.

Setelah itu, penelitian dilanjutkan di wilayah Bantul (dusun Jomblangan dan Singosaren) mulai Desember 2014 hingga Mei 2015. Kali ini, pelepasan menggunakan teknologi telur nyamuk yang diletakkan di ember kecil dan dititipkan di halaman rumah warga. Peletakan telur dilakukan dua minggu sekali, sebanyak 13 kali. Sebelumnya telah diperoleh persetujuan masyarakat melalui perwakilan kelompok warga pada tingkat Rukun Tetangga. Berdasarkan pemantauan, “Seperti halnya di Sleman, Wolbachia masih bertahan pada frekuensi yang sangat tinggi dan berkembang dengan baik.”

Pelepasan skala terbatas di Sleman dan Bantul menunjukkan bahwa teknologi Wolbachia sifatnya berkelanjutan, karena tidak memerlukan pelepasan terus menerus di suatu wilayah. “Apabila frekuensi Wolbachia telah  mencapai tingkatan tertentu, berarti Wolbachia bisa berkembangbiak alami dan bertahan terus di populasi,” terang Prof. Uut.

Selain itu, tidak ada penularan setempat kasus dengue yang terjadi setelah Wolbachia established (mapan) di wilayah pelepasan tersebut. Tampak bahwa wilayah dengan frekuensi Wolbachia tinggi, terlindungi secara signifikan dari penularan kasus dengue setempat. Orang yang tinggal di wilayah pelepasan bisa tetap kena dengue dari luar wilayah pelepasan karena mobilitas penduduk.

 

Meyakinkan masyarakat

Tentu, perlu usaha agar masyarakat yakin bahwa nyamuk ber-Wolbachia tidak akan menularkan dengue. Untuk itu, EDP-Yogya terlebih dahulu meyakinkan tokoh masyarakat seperti Kepala Dusun, Ketua RT, tokoh agama dan kader kesehatan.  Selanjutnya, sosialisasi dan komunikasi dilakukan secara intensif ke berbagai kalangan masyarakat. “Sebelum telur nyamuk dititipkan ke rumah-rumah, telah dilakukan skrining untuk memastikan bahwa telur nyamuk  tidak mengandung virus dengue dan chikungunya. Ke depan, akan dilakukan pula skrining virus Zika,” tutur Prof. Uut.

Warga pun diajak mengunjungi insektarium dan fasilitas penelitian lainnya. Juga dibuka kantor lapangan untuk mendekatkan EDP-Yogya dengan warga. “Mereka dengan mudah bisa bertanya maupun menyampaikan masukan atau keluhan. EDP mengembangkan sistem untuk memantau seluruh concern, keluhan, pertanyaan masyarakat, yang direspon dalam 24 jam,” pungkasnya.

Informasi rinci bisa dilihat di website, Instagram dan Facebook. (nid)

 

Bill Gates melepas nyamuk Ae. Aegypti ber-Wolbachia, di Sleman, Yogyakarta. Foto milik EDP-Yogyakarta.