Shaken Baby Syndrome, Kekerasan Fisik pada Bayi
shaken_baby_syndrome

Shaken Baby Syndrome, Kekerasan Fisik pada Bayi yang Berakibat Fatal

Mengguncang-guncang bayi saat emosi sangat berbahaya ini disebut shaken baby syndrome atau SMS (Sindrom Menangis Si kecil). Kasus ini cukup sering terjadi, tapi di Indonesia masih sering terabaikan. Secara anatomis, otot-otot leher bayi belum sepenuhnya berkembang sehingga belum mampu menopang kepala dengan sempurna. Guncangan yang keras akan membuat kepala anak bergerak dan berputar tidak terkontrol. Ini menghentakkan otak bayi ke depan-belakang di dalam tulang tengkorak, sehingga terjadi cedera otak serius.

SMS merusak sel-sel otak dan membuat otak kekurangan oksigen, yang dapat menyebabkan kematian atau kerusakan permanen pada otak. Ini masuk kategori penganiayaan anak (child abuse). Sering kali terjadi karena orangtua/pengasuh tidak sabar menghadapi anak yang terus-terusan menangis. Sesaat, tangis anak mungkin akan makin menjadi, tapi perlahan tangisnya reda karena otaknya rusak.

Lebih dalam mengenai SMS, OTC Digest mewawancara dr. Dito Anurogo. Petikannya.

 

Apa yang dimaksud dengan shaken baby syndrome (SBS)?

Shaken baby syndrome (SBS) atau SMS (Sindrom Menangis Si kecil) adalah bentuk kekerasan fisik pada bayi, yang bisa terjadi karena mengguncang-guncang bayi dengan hebat. Singkatnya, SMS adalah cedera kepala non-accidental (bukan akibat kecelakaan) yang terjadi akibat guncangan, pengaruh trauma/cedera yang kuat, atau kombinasi keduanya. Referensi lain menyebutkan, SMS adalah kumpulan berbagai tanda dan gejala akibat guncangan hebat/keras, goyangan, tubrukan atau benturan yang berakibat fatal pada kepala bayi atau anak kecil.

AAP (American Academy of Pediatrics) merekomendasikan istilah abusive head trauma (AHT) untuk menyebut SMS. Literatur lain menyebut SMS sebagai shaken impact syndrome, shaking impact syndrome, inflicted head injury, whiplash shake syndrome, whiplash injury, abusive head trauma, inflicted head trauma, atau non-accidental head trauma. Bayi hingga usia 1 tahun paling rentan mengalami SMS. MRI (magnetic resonance imaging) terbukti lebih sensitif untuk menegakkan diagnosis SMS dibandingkan dengan computerized tomography (CT) scan.

 

Seberapa sering kasus ini terjadi di Indonesia?

Sebenarnya cukup sering, tapi data resmi dan angka pasti di Indonesia belum ada. Permasalahannya, SMS belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Ironisnya lagi, belum tercantum dalam daftar kompetensi yang wajib dikuasai oleh dokter umum.

Data di luar negeri, berdasarkan berbagai studi epidemiologi, insiden shaken baby syndrome dilaporkan 14–33,8 per 100 ribu bayi berusia kurang dari satu tahun. Namun diduga, angka ini masih di bawah angka sebenarnya; banyak kasus yang tidak terdiagnosa atau belum/tidak dilaporkan. Rerata insiden SMS di Inggris dan Estonia sekitar 14,2 dan 40 per 100 ribu anak berusia kurang dari satu tahun.

 

Gerakan atau aktivitas seperti apa yang bisa menyebabkan terjadinya sindrom ini?

SMS biasanya terjadi saat orangtua atau pengasuh bayi/anak mengguncang-guncang anak dengan keras karena frustasi atau marah; seringkali karena bayi/anak tersebut tidak berhenti menangis. Shaken baby syndrome tidak disebabkan oleh memain-mainkan anak di ayunan, menggoyang-goyang anak di kaki (atau anak yang sedang mendekap kaki), jatuh atau cedera minor.

Para dokter spesialis anak telah mengetahui bahwa saat seorang bayi/anak terjatuh, 1 dari 1 juta mengalami cedera serius/fatal. Bayi dengan subdural hematoma (perdarahan di bawah lapisan dura tapi di luar otak) akibat terjatuh dan dibawa ke rumah sakit, maka orangtuanya dapat menjadi tersangka pelaku penyebab SMS.

 

Apa dampak shaken baby syndrome pada bayi?

Kemungkinan terburuknya adalah meninggal atau cacat permanen. Rerata kematian (mortalitas) akibat SMS sekitar 15-23%, dan berdampak pada sekitar 12-40 per 100 ribu bayi usia <12 bulan. Dari jumlah yang mampu bertahan hidup, sekitar 5–10% bertahan dalam kondisi vegetative state (gangguan kesadaran); 30–40% menderita gangguan penglihatan; 30% menderita episode epilepsi; dan 30–50% mengalami paralisis (lumpuh) atau keterlambatan (retardasi) perkembangan.

Guncangan otak terkait dengan shaken baby syndrome dipercaya menyebabkan robekan jaringan dan kerusakan akson sel saraf. Kerusakan otak permanen (irreversible) terjadi hanya dalam beberapa detik setelah bayi diguncang-guncang, sehingga banyak yang meninggal. Mereka yang mampu bertahan hidup umumnya memerlukan perawatan medis jangka panjang. Antara lain karena terjadi kebutaan total atau sebagian, hilang pendengaran (tuli), kejang-kejang, cerebral palsy, retardasi mental, keterlambatan perkembangan dan masalah yang terkait dengan perilaku dan belajar.

Profil Dokter

Dr. Dito Anurogo adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Semarang, tahun 2007. Dokter yang aktif di dunia digital ini tengah mengambil S2 Ilmu Kedokteran Dasar (IKD) Biomedis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM), Yogyakarta. Ia merupakan pemerhati dan pembelajar multidisiplin, termasuk ilmu mengenai saraf. Telah menulis 18 buku, di antaranya 45 Penyakit dan Gangguan Saraf dan The Art of Medicine. Publikasinya mengenai neurologi (saraf) telah menembus berbagai jurnal ilmiah, termasuk jurnal bergengsi internasional Science.

___________________________________________

Ilustrasi: Baby photo created by jcomp - www.freepik.com