Orang Kantoran Rawan Sakit Sick Building Syndrome | OTC Digest

Sick Building Syndrome, Penyakit Orang Kantoran

Wawan (28 tahun) sudah dua minggu terserang batuk dan hidung meler. Anehnya, itu hanya terjadi di kantor. Pulang ke rumah, gejala flu hilang. Banyak teman sejawat Wawan yang mengalami hal serupa.

Yang dialami Wawan bukan karena hal magis atau semacamnya. Ini murni masalah medis, disebut sick building syndrome (SBS). National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) tahun 1997 menyebutkan, 52% penyakit pernapasan terkait building syndrome, akibat buruknya ventilasi gedung dan  air conditioner (AC) yang jarang dibersihkan. Penelitian terhadap 350 karyawan dari 18 kantor di Jakarta selama 6 bulan (Juli-Desember 2008), menunjukkan penurunan kesehatan pekerja dalam ruangan akibat udara tercemar radikal bebas (bahan kimia); 50% pekerja di gedung perkantoran cenderung mengalami building syndrome.

Dr. Nusye E. Zamsiar, MS, SpOK, Ketua Umum Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia menjelaskan, building syndrome merupakan sekumpulan gejala akibat bangunan yang kurang sehat: ventilasi gedung dan kualitas udara buruk. Yang kerap menimbulkan masalah adalah kurangnya kebersihan pendingin ruangan (AC). Di filter AC menumpuk kerak atau jamur, yang kemudian tersebar ke seluruh ruangan.

“Ruangan ber-AC itu tertutup. Jika satu orang kena flu, yang lain mudah tertular,” ujarnya. Penyebab building syndrome yang lain, karena ada partikel radikal bebas dari asap rokok (langsung atau yang menempel di pakaian si perokok), ozon dari mesin fotokopi dan printer, perabotan, cat serta bahan pembersih.

Volatile organic compounds (VOCs) yang berasal dari perabot, karpet, cat, debu, karbon monoksida atau formaldehid yang terkandung dalam pewangi ruangan, dapat memicu iritasi mata dan hidung. Penelitian juga menunjukkan, individu yang mempunyai riwayat alergi akan bereaksi terhadap VOCs konsentrasi rendah, dibanding individu tanpa alergi.

Gejala building syndrome berupa sakit-sakit badan, demam, pilek, batuk. Ini seperti keluhan ringan. “Umumnya, mereka yang mengalami merasa tidak perlu istirahat; 80% pekerja tetap masuk kantor sehingga potensi penyebaran kuman semakin besar,” katanya. Gejala lain, mirip saat terjadi alergi (iritasi mata, kulit dan tenggorokan).

Pada building syndrome, gejala ringan bisa berulang. Penelitian menunjukkan, kondisi ini menurunkan produktivitas kerja 30%. “Pengobatan utama adalah istirahat. Selain itu minum obat flu yang dijual bebas. “Kalau dalam 2-3 hari belum membaik, apalagi sampai terjadi radang, sebaiknya konsultasi ke dokter,” paparnya. 

Minum obat dokter, banyak pasien yang tidak patuh dengan alasan takut mengantuk. Sebagai solusi, bisa diganti obat flu batuk dengan 2 formula baru; kaplet putih untuk pagi/siang yang tidak menyebabkan kantuk, kaplet hitam membantu istirahat optimal malam hari. (jie)


Ilustrasi: www.freepik.com-Designed by freepic.diller/Freepik