Menerapkan Organic Parenting Tak Harus Ribet, Ini Cara Sederhana

Menerapkan “Organic Parenting” Tak Harus Ribet, Cara Sederhana Ini bisa Dilakukan

Menerapkan organic parenting mungkin terkesan ribet bagi sebagian orang tua. Sebenarnya, tidak demikian. “Menerapkan organic parenting tidak harus selalu melibatkan usaha yang besar seperti mengajak anak berkemah. Bisa disisipkan dalam kegiatan sehari-hari,” ungkap Ayoe Soetomo, M.Psi.

Sesederhana punya peliharaan di rumah, bisa menjadi bagian dari pola asuh organik. Dengan memelihara hewan, minimal anak mengenal nama dan sosok hewan secara nyata. Ini merupakan stimulasi yang merangsang penglihatan, pendengaran, penciuman, hingga indra peraba anak. “Anak juga akan belajar bertanggung jawab. Bagaimana mengurus anak ayam, misalnya. Apa yang harus dilakukan agar anak ayam tumbuh dan hidup dengan baik,” tutur Ayoe, dalam diskusi “Organic Parenting Semakin Tinggi Minat” bersama susu petumbuhan Arla Puregrow Organic di Jakarta, Kamis (23/01/2020).

Menanam tanaman di halaman juga bisa dilakukan. Dimulai dari membeli bibit, menanamnya di pekarangan, dan merawatnya setiap hari. Contoh kegiatan lain, ajaklah anak memilah-milah sampah. Mana sampah yang bisa dijadikan pupuk kompos, mana yang bisa didaur ulang.

Di akhir pekan, jangan “mager” alias malas bergera. Sempatkanlah melakukan kegiatan bersama anak. Meski hanya sekadar berjalan-jalan atau bersepeda bersama di sekitar rumah, atau berkebun bersama. Bisa pula memasak bersama anak. Buatlah rancangan kegiatan, mau melakukan apa di akhir pekan. “Libatkan anak. Mereka akan senang diajak berdiskusi, dan pendapatnya didengar,” tegas Ayoe, presenter program Bincang Sehati di DAAI TV.

Yang pasti, orang tua harus kreatif. “Banyak hal yang bisa dilakukan, banyak makanan dan minuman organik yang bisa dicoba. Memang menantang sekali untuk orang tua,” tandas Ayoe. Yang pasti, orang tua harus sama-sama berkomitmen untuk menjalankan pola asuh organik, “Kalau dijalankan bersama dengan komitmen, tidak terasa terlalu sulit.”

 

Pola makan organik

Pola asuh organik juga meliputi pola makan organik. Perlu lebih cermat saat membeli produk organik. “Orang tua harus belajar membaca diagram nutrisi pada kemasan makanan dan minuman, jangan asal beli,” lanjut Ayoe.

Bukan berarti harus selalu menggunakan bahan organik di tiap makanan dan minuman. Bagaimanapun, produk organik relatif mahal, dan tidak semua orang bisa mengaksesnya. Mulailah dari hal terkecil yang bisa dijangkau. Misalnya menanam sendiri sayuran di pot-pot, menggunakan pupuk kompos dari dapur sendiri.

Bahan pangan organik memang memiliki keunggulan dibandingkan pangan non organik. “Pangan organik tidak mengandung pestisida dan pupuk sintesis. Ini yang ingin kita hilangkan pada makanan untuk anak,” tutur dr. Lucia Nauli Simbolon, Sp.A.

Pada pangan hewani, produk organik tidak mengandung hormon tertentu, yang kerap disuntikkan pada sapi untuk merangsang produksi susu, atau pada ayam untuk membuatnya lebih gemuk. Hewan yang dirawat di pertanian organik juga bebas dari pakan yang mengandung pestisida dan pupuk sintesis, sehingga produk yang dihasilkannya pun bersifat organik.

Sapi yang mengonsumsi makanan organik memiliki kandungan asam linoleat dan omega-3 lebih tinggi pada susunya. “Ini membuat daya tahan tubuh anak lebih baik,” ucap dr. Lucia. Kadar antioksidannya pun lebih tinggi, “Karena tidak ada interaksi dengan bahan kimia berbahaya.”

Selain itu, pangan organik juga merangsang pertumbuhan bakteri bemanfaat di usus. “Awalnya, 70% imunitas berada di usus. Bila usus sehat, daya tahan anak pun baik,” ucap dr. Lucia. Keseimbangan bakteri usus juga akan membuat gut-brain axis terbentuk dengan baik, sehingga fungsi kognitif anak pun turut membaik.

Makanan organik termasuk susu, memiliki rasa alami dan segar, “Sehingga anak-anak menyukainya. Rasanya asli tanpa tambahan apa-apa.” Meski tanpa tambahan gula dan perisa, susu sudah memiliki rasa yang enak. “Gula tambahan dan perisa akan membuat anak terbiasa dengan rasa manis. Saat besar nanti, dia akan terus mencari rasa yang makin manis,” lanjutnya.

Membiasakan anak dengan rasa alami susu juga diupayakan oleh Arla, produsen susu organik terbesar di dunia. “Susu Puregrow Organic tidak menggunakan sukrosa (gula pasir) maupun perisa, agar si kecil dapat mengenal dan terbiasa dengan rasa alami susu sehingga membantu ibu membangun selera sehat si kecil semenjak dini,” papar Anastasia Damayanti, Head of Marketing PT Arla Indofood.

Dengan kandungan nutrisi yang mengacu pada WHO Codex dan BPOM, serta berbahan dasar 99% organik, Arla berkomitmen untuk mendukung ibu milenial memberikan nutrisi terbaik bagi buah hati. “Kami ingin menjadi teman para ibu milenial dalam menerapkan gaya hidup sehat dan organic parenting yang berkelanjutan, bukan hanya sekadar tren sesaat,” pungkas Anastasia. (nid)

____________________________________________

Ilustrasi: Food photo created by prostooleh - www.freepik.com