Puasa Optimalkan Detoksifikasi, Hindari Keluhan Maag | OTC Digest

Puasa Optimalkan Detoksifikasi, Hindari Keluhan Maag

Bagi yang ingin menurunkan berat badan sekaligus membuat tubuh lebih sehat, bulan Ramadhan adalah saat yang tepat. Bukanlah hoaks bila ada anggapan bahwa berpuasa membantu mengoptimalkan proses detiksifikasi dalam tubuh. “Hanya dengan tidak makan dan minum selama lebih dari 13 jam, sel-sel tubuh kita melakukan proses pembersihan dengan optimal,” ungkap Ketua PERGIZI PANGAN Indonesia Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS.

Setiap saat, tubuh melakukan detoksifikasi dan pembersihan. Dalam kondisi normal (tidak puasa), ‘cleaning service’ di dalam tubuh bekerja kurang optimal. “Hanya sampah kasarnya saja yang dibersihkan. Tapi kalau kita puasa 13 jam, maka debu hingga ke pojok-pojok ruangan pun disedot pakai vacuum cleaner,” Prof. Hardinsyah memberi ilustrasi. Itu artinya segala racun, sel-sel tua/mati, sel tumor, hingga mikroba berbahaya benar-benar dienyahkan.

Saat tidak ada asupan makanan dari luar, tubun harus berupaya menyediakan energi sendiri. Maka, lisosom memulai proses autofagia: sel-sel yang sudah tua atau tidak produktif lagi, dihancurkan. Sel rusak yang sudah dihancurkan ini kemudian terurai, kembali ke bahan dasarnya; sedangkan racun yang ada di sel dibuang keluar tubuh. Mirip dengan penguraian sampah organik menjadi kompos.

Selanjutnya bahan dasar sel seperti air, asam amino, asam lemak, vitamin dan mineral dimanfaatkan kembali untuk membuat sel baru yang produktif, serta sebagai nutrisi sel-sel lain yang sehat. “Inilah sistem tubuh untuk mengefisiensikan energi ketika tidak ada makanan dan minuman yang masuk,” terang Prof. Hardinsyah, saat dijumpai dalam diskusi Makan Bijak 2.0: Semakin Baik untuk Perutmu, Baik untuk Lingkunganmu bersama Mylanta, Jumat (03/05/2019).

Bagi yang memiliki maag (dispepsia) fungsional, jangan takut untuk berpuasa. Justru, berpuasa bisa membantu meredakan keluhan maag karena jadwal makan jadi teratur. Yang penting, perhatikan asupan makanan saat sahur dan berbuka puasa.

Menurut Prof. Hardinsyah, makanan berlemak sebaiknya dihindari. Makanan yang tinggi protein pun secukupnya saja, karena kedua jenis makanan ini bisa memicu produksi asam lambung bila dikonsumsi dalam jumlah besar.

Sebaliknya, tambahkan porsi buah dan sayur yang bersifat basa sehingga meningkatkan (pH) asam lambung. “Lemak dan protein hewani dan menurunkan pH lambung, padahal kita ingin mencegah jangan sampai rendah. Jadi harus ada sayur dan buah,” ujarnya. Makin rendah pH, makin asam kondisi lambung.

Bukan berarti hanya boleh makan sayur dan buah selama bulan puasa. Tetaplah mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang. Hanya saja, batasi makanan yang bisa memicu produksi asam lambung berlebihan. Buah yang terlalu asam, serta sayur yang mengandung gas seperti kol pun sebaiknya dihindari. Juga kafein dan minuman berkarbonasi bagi yang perutnya sensitif.

Dan tentunya, jangan makan berlebihan. “Kalau sahur kekenyangan, perut jadi tidak nyaman di pagi hari,” ucap Prof. Hardinsyah. Bila ini terus berlanjut, aktivitas pun akan terganggu seharian. (nid)

_________________________________

Ilustrasi: Mockup psd created by freepik - www.freepik.com