Puasa Aman Bagi Orang Diabetes, Cegah Hipoglikemia | OTC Digest

Puasa Aman Bagi Orang Diabetes, Cegah Hipoglikemia

Menjalankan ibadah puasa memiliki tantangan tersendiri bagi penderita diabetes. Risiko hipoglikemi mengintai penderita diabetes, terutama mereka yang sudah memakai terapi insulin. Beberapa hal perlu diperhatikan agar tidak terjadi hipoglikemia.

Secara global, jurnal Diabetes Care (2013) mencatat sekitar 116 juta orang muslim di seluruh dunia yang menderita diabetes menjalankan ibadah puasa. Dari jumlah tersebut hampir 80%-nya dengan diabetes mellitus tipe 2 (DM2) dan 40% diabetes mellitus tipe 1 (DM1) menjalankan puasa.

Salah satu risiko yang dihadapi dan ditakuti oleh penderita diabetes (diabetesi) adalah hipoglikemia, atau glukosa darah kurang dari normal (< 70 mg/dL). Riset mencatat umat muslim dengan DM2 berisiko 7,5 kali mengalami hipoglikemia, dan 4,7 kali pada penderita DM1, akibat waktu puasa yang lama, konsumsi makanan/minuman dalam jumlah besar, dan berkurangnya aktivitas fisik.

Menurut Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FINA, sebenarnya mereka dengan gula darah tinggi (gula darah sewaktu > 250 mg/dL), apalagi tidak terkontrol, tidak disarankan berpuasa. Namun, sebagian besar penderita memaksa untuk tetap berpuasa.

Mereka ini adalah golongan penderita diabetes yang berisiko tinggi mengalami komplikasi, baik hipoglikemia atau ketoasidosis.

“Hipoglikemia akan merusak sel-sel otak. Beberapa menit saja sel otak tidak mendapatkan gula akan mati, padahal kerusakan sel otak sifatnya irreversible (tidak bisa diperbaiki). Semakin kerap seseorang mengalami hipoglikemi, semakin banyak sel otak yang rusak,” terang Prof. Sidar.

Tanda-tanda hipoglikemia seperti keringat dingin, jantung berdebaran, gemetar, kebingungan / linglung. Pada kasus berat bisa menyebabkan koma.

“Biasanya hipoglikemia muncul 1-2 jam menjelang magrib. Jika tanda-tanda hipoglikemia muncul langsung batalkan puasa, jangan menunggu buka karena alasan nanggung, bisa terlambat,” ujar Prof. Sidar, dalam acara Penderita Diabetes di Perkotaan : Bagaimana Cara Bertahan Hidup Seperti Orang Normal Selama Bulan Puasa, di Jakarta (9/5/2019).

Jika terjadi hipoglikemia segera konsumsi minuman manis - dengan gula tebu, bukan pemanis buatan – atau konsumsi permen. Setelah itu disarankan untuk mengevaluasi : makan terlalu sedikit, dosis obat terlalu besar, atau aktivitas fisik/olahraga terlalu keras.   

Perubahan makan dan obat

Dibutuhkan penyesuaian-penyesuaian selama menjalankan ibadah puasa, baik itu konsumsi makanan, obat-obatan dan aktivitas fisik, untuk mencegah terjadinya hipoglikemia.    

Prof. Sidar menambahkan, penderita diabetes tetap diperbolehkan mengonsumsi makanan manis, tetapi perhatikan jumlah, jadwal dan jenis (3J) makanannya. Diabetesi disarankan untuk tidak terlalu mengubah drastis pola makannya.

Sebaiknya mengonsumsi karbohidrat kompleks – kentang, ubi, jagung, nasi merah, atau sereal gandum -  saat sahur. Dan, memilih karbohidrat sederhana ketika berbuka.

“Pada dasarnya penderita diabetes tetap boleh minum es cendol atau sejenisnya, tetapi beberapa sendok saja, tidak perlu satu gelas. Jangan pula, walau minum manis beberapa sendok, tetapi berulang-ulang. Makan kurma besar cukup 1 buah, atau 3 buah kurma ukuran kecil. Jangan juga pilih kurma dengan tambahan cokelat, nanti gulanya jadi double ,” katanya.

Yang tak kalah penting adalah mengatur dosis obat. Dibutuhkan penyesuaian dosis atau waktu mengonsumsi obat. Obat diabetes golongan sulfonilurea (misalnya glibenklamid atau glimepiride), lebih berisiko menyebabkan hipoglikemia, dibanding metformin.

“Sehingga disarankan obat golongan sulfonilurea tidak dikonsumsi saat sahur, tetapi di waktu buka. Dosisnya bisa dikurangi atau tetap jika masih dosis kecil. Tujuannya adalah bila dimakan waktu buka, dan terjadi hipoglikemia, masih bisa langsung makan.

“Obat diabetes yang tidak bikin hipoglikemia, seperti metformin, tidak masalah dimakan dua kali (saat buka dan sahur),” terang Prof. Sidar.

Hal yang sama juga berlaku untuk mereka yang memakai terapi insulin. Jika menggunakan insulin kerja panjang – yang disuntikkan sekali sehari – pakailah saat buka. Sementara pada insulin kerja cepat, disuntikkan dengan dosis separuh saat sahur, dan dosis yang sama di waktu buka puasa.  

Lakukan pemantauan gula darah sebelum dan sesudah suntik insulin. Atau, setelah mengalami hipoglikemia agar bisa segera melakukan langkah-langkah evaluasi. (jie)