Luka Kering Bukan Pertanda Sembuh | OTC Digest
luka_koreng_antiseptik_plester

Luka Kering Bukan Pertanda Sembuh

“Lukanya sudah kering, sebentar lagi sembuh nih”. Sering kita beranggapan seperti ini. Faktanya, luka kering bukan berarti tanda sembuh. “Luka sembuh itu definisinya kulit kembali menutup seperti semula. Kalau ada yang kering atau koreng, belum tentu itu sembuh,” terang dr. Adisaputra Ramadhinara, CWSP, FACCWS, spesialis luka dari RS Pantai Indah Kapuk.

Idealnya, kondisi luka itu lembab; tidak basah dan tidak juga kering. Koreng bisa terbentuk dari sisa-sisa darah yang menggumpal. Bukan berarti koreng adalah pertanda buruk, tapi bisa menghambat penyembuhan luka. Di fasilitas kesehatan, justru koreng akan dibersihkan (diangkat), agar luka cepat sembuh.

Baca juga: Borok akibat Luka Kanker

Saat terjadi luka, sel kulit baru akan tumbuh dari pinggir menuju ke tengah. “Kalau ada koreng, sel kulit baru harus berjalan menggali di bawah koreng untuk bisa bertemu dengan pasangannya dari seberang luka. Sedangkan kalau lukanya lembap, sel kulit baru bisa berjalan di atas permukaan luka, sehingga proses penyembuhan lebih cepat,” tutur dr. Adi, dalam peluncuran Hansaplast Spray Antiseptik di Jakarta, Rabu (05/09/2018). Selain itu, koreng bisa memerangkap bakteri/kuman di bawahnya, sehingga luka terinfeksi.

Koreng bisa terjadi luka tidak dibersihkan dengan baik dan benar. Hingga saat ini, kita sering mengoleskan cairan antiseptik dengan kandungan povidone iodine. Cairan ini memang sangat efektif membunuh kuman, tapi cukup menimbulkan perih. Selain itu, “Bila povidone iodine bertemu dengan protein, akan menggumpal.” Akibatnya sisa-sisa darah akan mengering, dan timbul koreng.

 

Merawat luka yang benar

Pada prinsipnya, pertolongan pertama pada luka adalah bersihkan dengan benar. Minimal dengan air bersih, agar kotoran dan benda asing di luka bisa terbuang. Idealnya dengan cairan antiseptik, yang tidak hanya efektif tapi juga aman. Setelah itu cairan dikeringkan dengan dengan kasa steril, lalu tutup luka dengan plester untuk mencegah kuman mengkontaminasi luka.

Di RS, dokter dan tenaga medis biasa menggunakan antiseptik yang disebut PHMB (Polyhexamethylene Biguanide). “Antiseptik ini sangat efektif, aman, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak menimbulkan perih,” tegas dr. Adi. Sayangnya, antiseptik yang mulai digunakan sejak 1980-an ini hanya tersedia untuk penggunaan oleh tenaga medis; belum untuk kebutuhan rumah tangga, hingga Hansaplast meluncurkan produk Spray Antiseptik.

Baca juga: Pertolongan Pertama pada Luka Olahraga

Tentu, sediaannya diperuntukkan bagi luka akut dan kecil yang biasa terjadi sehari-hari. Untuk luka besar dan luka kronik, tetap harus ke dokter.

Untuk penutup luka, tidak disarankan menggunakan kain kasa. “Luka akan menempel pada kasa. Begitu dibuka, pasti sakit,” terang dr. Adi. Kasa juga tidak efektif mencegah bakteri masuk ke luka; bakteri bisa menembus sampai 64 lapis kasa. “Tutuplah luka dengan plester yang sesuai, yang memang dibuat untuk luka,” imbuhnya.

Plester bisa diganti setiap sehabis mandi. Prosesnya sama: bersihkan luka, keringkan, lalu tutup lagi dengan plester. Cara ini juga akan mencegah luka menjadi kering. Untuk mengurangi nyeri saat plester dibuka, oleskan air di sekeliling plester sehingga lebih mudah dilepas. (nid)

___________________________________

Ilustrasi: saulhm / Pixabay.com