Lima Mitos Minyak Kelapa yang Terbukti Keliru Secara Ilmiah | OTC Digest

Lima Mitos Minyak Kelapa yang Terbukti Keliru Secara Ilmiah

Rosemary Stanton, UNSW

Kelapa adalah makanan penting di daerah tropis sejak ribuan tahun yang lampau. Kelapa biasa diminum airnya, dimakan dagingnya, serta dibuat “susu” alias santan.

Minyak kelapa putih padat—saya akan menggunakan istilah yang telanjur populer ini, meski secara teknis yang benar adalah lemak, bukan minyak—saat ini digilai oleh para pesohor dan blogger, peminat diet paleo dan penjual “makanan super”. Khasiat medis minyak kelapa ramai dibahas di internet, tetapi apakah teruji secara ilmiah?

1. Membantu menurunkan berat badan

Tidak ada penelitian yang menunjukkan minyak kelapa membantu menurunkan berat badan. Mitos yang disebar di ratusan situs internet, bahwa minyak kelapa punya kemampuan khusus menyingkirkan lemak tubuh, didasarkan pada ide keliru bahwa minyak kelapa sama dengan produk laboratorium semi-sintetis yang dikenal sebagai minyak MCT (medium-chain triglycerides).

Tidak seperti minyak nabati biasa, minyak MCT larut dalam air dan awalnya dirancang untuk digunakan pada pemberian makanan lewat selang atau untuk orang malnutrisi karena mereka kekurangan enzim-enzim normal untuk memecah lemak. Tidak seperti kebanyakan lemak yang diserap ke dalam aliran darah, minyak MCT diserap secara langsung ke dalam lever (hati). Ini berarti, minyak MCT lebih cepat digunakan sebagai bahan bakar ketimbang lemak lainnya.

Ada memang beberapa bukti bahwa minyak MCT bisa membantu menurunkan berat badan, meski dosis dan efek sampingnya (setidaknya di awal) bisa berupa mual, kram perut dan diare. Meski demikian, situs-situs internet yang mengasumsikan efek minyak MCT berlaku juga untuk minyak kelapa itu salah. Dua produk itu tidaklah sama.

MCT terbuat dari dua asam lemak—caprylic dan capric. Minyak kelapa memiliki sejumlah kecil asam lemak ini, tapi asam lemak dominannya yakni asam laurat. Asam laurat tidak dicerna di lever melainkan di tubuh seperti halnya asam lemak pada minyak nabati lainnya.

Jika mengunyah sepotong daging kelapa (sumber serat yang murah) dapat membantu Anda mengurangi makan secara keseluruhan, itu bagus. Tetapi satu studi mengenai berbagai lemak, termasuk minyak kelapa, tidak menemukan adanya manfaat terhadap rasa lapar, rasa kenyang, kepuasan atau pikiran tentang makanan.

2. Menurunkan risiko penyakit jantung

Beberapa studi yang akurat menunjukkan, dampak keseluruhan minyak kelapa dalam meningkatkan kolesterol LDL (jahat) justru lebih besar daripada minyak jagung, safflower/kesumba atau campuran kedelai dan wijen.

Memang, minyak kelapa sedikit lebih baik daripada mentega.

Banyak bukti menunjukkan, masyarakat yang secara tradisional menjadikan kelapa sebagai sumber utama lemak (entah didapat dari daging atau santan) memiliki tingkat penyakit jantung yang rendah. Salah satu studi yang dimaksud dilakukan pada tahun 1960-an terhadap penduduk Kepulauan Pasifik yang langsing dan aktif, yang kerap mengonsumsi ikan, gurita, talas, buah sukun, pisang, dan kelapa.

Hal yang sama juga dijumpai pada masyarakat Kitava, sebuah pulau kecil di Papua Nugini) yang sangat ramping. Mereka terbiasa memakan yam, singkong, ubi, taro, pisang dan buah-buahan tropis lainnya, ikan, dan kelapa. Pola makan mereka tidak hanya rendah lemak, tapi juga sedikit alkohol, garam, gula, susu, atau makanan yang diproses.


Baca juga: Kalkulator kami dapat menebak sisa hidup yang Anda miliki


Berbeda dengan pola makan di masa lalu yang disebutkan di atas, kelapa belum mampu melindungi masyarakat dari perubahan pola makan dan aktivitas.

Di Samoa, misalnya, konsumsi kelapa belum berubah, tapi pola makan total dalam sehari menyumbang 3.800 kilojoule (900 kalori) lebih tinggi pada 2007, dibandingkan dengan 1960-an.

Penduduk Kepulauan Pasifik kini berada di puncak tabel obesitas dunia. Tingkat penyakit jantung di sana tergolong tinggi, dan diabetes tipe 2 tiga kali lebih umum dibandingkan di Australia.

Padahal mereka masih tetap mengonsumsi kelapa.

Sebuah ulasan terbaru terhadap 21 makalah penelitian dan satu ulasan mendalam menunjukkan, minyak kelapa tidak dapat diandalkan dalam mengurangi kolesterol darah atau melindungi dari penyakit jantung.

3. Membunuh bakteri dan virus

Beberapa situs internet mengatakan, minyak kelapa bisa membunuh virus, jamur dan bakteri berkat kandungan monolaurin, senyawa yang berasal dari asam laurat.

Studi pada tikus memang menunjukkan, monolaurin bisa melindungi hingga batas tertentu dari bakteri Staphylococcus aureus (yang bertanggung jawab untuk infeksi stafilokokus). Tapi peneliti yang sama tidak menemukan efek apa pun dengan minyak kelapa, baik murni maupun olahan.

Pada jenis infeksi tertentu, ada kemungkinan bahwa monolaurin bisa bermanfaat, tapi fakta ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa minyak kelapa punya khasiat yang sama, sebab tidak ada bukti tubuh kita bisa menghasilkan monolaurin dari minyak kelapa.

Justru, bentuk artifisial dari monolaurin (glycerol monolaurate) ditemukan pada minyak kelapa dan populer karena berkhasiat sebagai pengemulsi dan pelembap dalam kosmetik, deterjen dan sabun. Khasiat ini bisa mendukung manfaat minyak kelapa sebagai pelembap permukaan atau penghapus riasan.

4. Menghaluskan rambut

Beberapa makalah di Journal of Cosmetic Science mengklaim, minyak kelapa dapat menembus batang rambut lebih baik daripada minyak mineral. Ini bisa bermanfaat.

Apalagi, penggunaan minyak kelapa untuk rambut tidak akan berdampak buruk bagi kesehatan. Jadi jika tertarik, mungkin minyak kelapa boleh juga dimanfaatkan dengan alasan ini.

5. Memutihkan gigi

Mitos ini tercipta dari mitos sebelumnya, bahwa minyak kelapa bisa membunuh organisme berbahaya.

Praktik berkumur dengan minyak kelapa (dan mendorong minyak agar melewati sela-sela gigi alias “oil pulling”) selama 10–30 menit sebelum kemudian diludahkan keluar berasal dari praktik Ayurveda di India dan dipercaya mengeluarkan racun.

Bila kegiatan tersebut membuat Anda merasa sakit atau sakit kepala, itulah bukti bahwa tubuh Anda sedang mengeluarkan racun.

The ConversationPraktik ini tidak didukung oleh bukti ilmiah, sehingga tidak dapat menggantikan perawatan gigi yang tepat.

Rosemary Stanton, Nutritionist & Visiting Fellow, UNSW

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.