Duo Penurun Kolesterol
Duo Penurun Kolesterol- Jati Belanda

Duo Penurun Kolesterol

 Kolersterol tinggi dapat menyebabkan penyakit jantung. Ramuan jati belanda dan asam jawa dapat dimanfaatkan agar kadar kolersterol dalam darah kembali normal.

Kemeriahan Idul Fitri telah berlalu. Ketupat, rendang, opor ayam dan makanan serba santan tak ada lagi. Yang tertinggal adalah kadar kolesterol  yang meningkat dalam darah. Hiperlipidemia (kolesterol tinggi) adalah salah satu keluhan khas pascalebaran.  Beruntung, negeri kita  dianugerahi beragam tanaman obat yang secara ilmiah dapat dimanfaatkan untuk menurunkan kadar kolesterol. Perpaduan daun jati belanda dan asam jawa bisa dicoba.

Jati belanda

Masyarakat Jawa, terutama kaum wanitanya,  secara turun temurun biasa mengonsumsi jamu galian singset untuk menurunkan berat badan. Kelebihan berat badan erat kaitannya dengan kolesterol tinggi. Nah, jamu atau ramuan galian singset mengandung rebusan daun jati belanda (Guazuma ulmifolia). Berdasar analisa laboratorium, daun jati belanda  memiliki beragam fitokimia yang sebagian besar bersifat antioksidan. Antara lain sterol, alkaloid, karotenoid, flavonoid, tannin, saponin dan musilago.

Tanin adalah molekul berukuran besar yang gampang berikatan dengan protein. Di saluran pencernaan, sifat tanin tersebut memungkinkan protein di permukaan usus mengendap, sehingga mengurangi penyerapan makanan. 

Musilago memiliki sifat menangkap air dan membentuknya menjadi gel. Sebagai water trapping, musilago berfungsi sebagai pembentuk feses (bulk laxatives). Kombinasi dari tanin dan musilago ini memberi manfaat sebagai pelangsing badan. 

Akan halnya sterol, pertama kali ditemukan dapat menurunkan kadar kolesterol darah pada tahun 1953. Sejak itu banyak bukti-bukti klinis mulai dikumpulkan, dan pada September 2000, US Food & Drug Administration (FDA) mengesahkan klaim sterol ester, dalam menurunkan risiko penyakit jantung. Sterol memiliki struktur kimia mirip kolesterol, dan saat dikonsumsi dapat menggantikan kolesterol untuk berikatan dengan tubuh. Akibatnya, kolesterol yang terserap tubuh lebih sedikit.

Studi di Aristotelian University in Thessaloniki, Yunani, dilakukan pada 150 responden dengan kadar kolesterol di atas normal. Risiko penyakit kardiovaskular menurun 24-13%, setelah melakukan diet Mediteranian – diet untuk kesehatan jantung - dalam 4 bulan. Sementara pada kelompok pembanding yang hanya diberi sterol ester, LDL atau kolesterol ‘jahat’ turun 26-30% setelah 1 bulan.

“Sterol ester yang ditambahkan dalam makanan tampaknya menjadi pilihan yang berguna untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama pada mereka yang tidak melakukan diet Mediteranian,” ujar Prof. Athyros, Kepala Penelitan.

         Penelitian oleh Setyo Sri Rahardjo dari Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada, melihat efek positif ekstrak etanol daun jati belanda terhadap aktivitas enzim lipase. Tes dilakukan pada 30 tikus jantan albino (dibagi 5 kelompok) dan mendapat ekstrak etanol daun jati belanda selama 30 hari. Berat badan tikus dimonitor tiap hari. Sebelum dan sesudah tes dilakukan, sampel darah diambil dan aktivitas lipase pankreas dimonitor.

         Hasilnya menunjukkan, ekstrak etanol daun jati belanda menurunkan / menghambat aktivitas serum lipase, yakni enzim yang bekerja memecah lemak menjadi asam lemak, agar dapat diserap tubuh dan digunakan. Daun jati belanda juga memiliki efek astingen; mengerutkan lapisan dalam usus sehingga penyerapan lemak terhalang.

 

Asam jawa

Asam jawa atau tamarind (Inggris) mengandung banyak gizi. Dalam 100 gram buah asam jawa terkandung 36% tiamin, 35% zat besi, 23% magnesium dan 16% fosfor. Juga mengandung beberapa nutrisi lain seperti  vitamin C, vitamin E, vitamin B, kalsium, kalium, mangan dan serat. Tamarind juga tinggi asam tartarik, seperti pada buah citrus mengandung asam citrik, yakni antioksidan kuat pelawan radikal bebas dalam tubuh.

Penelitian menunjukkan, asam jawa memiliki senyawa khusus hydroxycitric acid (HCA) yang bekerja menghambat enzim dalam tubuh, yang khusus bekerja menyimpan lemak. Asam jawa juga dapat meningkatkan serotonin, sebuah neurotransmitter yang bekerja mengontrol nafsu makan. Daun asam jawa tak kalah hebat sebagai penurun kolesterol. Senyawa aktif flavonoid dan tanin di dalamnya meningkatkan peluruhan lemak, dengan meningkatkan metabolisme pembakaran timbunan lemak dalam tubuh.

Riset oleh Chowdhury SR, Wahid MA dkk, mencoba melihat efek ekstrak tamarind pada kandungan kolesterol di telur ayam. Sebanyak 30 ayam betina berbagai jenis berusia 43 minggu diberi makanan yang mengandung ekstrak tamarind sebanyak 0 (kelompok kontrol), 2%, 4%, 6% dan 8 %, selama 6 minggu.

Berat ayam meningkat seiring penambahan konsentrasi ekstrak tamarind. Kandungan kolesterol tidak terpengaruh dengan dosis penambahan ektrak tersebut. Produksi terlur dan massa telur berada di titik maksimal, saat ayam mendapat asupan ekstrak tamarind 2%, dan di titik minimal saat 8%. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Poultry Science 2005 ini menyimpulkan, 2% suplemen tamarind mampu menurunkan konsentrasi kolesterol dalam telur ayam.

Yang tak kalah menarik, asam jawa juga dapat menurunkan  gula darah. Di India, secara tradisional asam digunakan sebagai obat diabetes. Penelitian yang dilakukan oleh Srinivasan BP, Sole SS, dkk menunjukkan, ekstrak asam Jawa mampu menahan kerusakan sel β (beta) - pankreas (yang memproduksi insulin).

Pada pendertia diabetes setidaknya terjadi kerusakan 50% sel beta-pankreas. Artinya, sudah tidak ada atau produksi insulin berkurang (atau keduanya) dan proses mengubah glukosa menjadi energi terhambat. Akibatnya, kadar gula darah tinggi.

Journal of the American College of Nutrition (2009) mencatat, penggunaan asam jawa atau tanaman lain yang berperan sebagai “penghambat karbohidrat”  dapat menjadi alternatif pengobatan diabetes dan obesitas.  Asam jawa mampu menghambat alfa-amilase, enzim dalam tubuh untuk menyerap karbohidrat. Artinya, menghambat lonjakan gula darah sesaat setelah makan.

Cukup diseduh

Mudah mengolah daun jati belanda. Menurut Lalang Ken Handita, S.Sos, MM dari Badan Ketahanan Pangan, Kementrian Pertanian RI, daun Jati Belanda kering cukup diseduh seperti membuat teh. Ambil beberapa lembar daun Jati Belanda kering, seduh dengan air panas, saring sebelum diminum dan tambahkan satu sendok madu atau gula batu agar tidak hambar. Asam Jawa selain menambah rasa teh, juga menguatkan efek penurunan kolesterol. (jie)