Sering Kencing, Waspadai Diabetes Insipidus | OTC Digest

Sering Kencing, Waspadai Diabetes Insipidus

Bolak-balik ke kamar kecil, dalam satu hari bisa lebih dari 20 kali, bahkan hampir tiap jam. Ini adalah gambaran seseorang yang menderita penyakit diabetes insipidus.

Diabetes insipidus berbeda dengan penyakit kencing manis (diabetes melitus) yang biasa kita kenal,  namun menunjukkan gejala sering kencing seperti pada DM. Diabetes insipidus adalah gangguan kemampuan tubuh mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit. Ini termasuk penyakit langka.

 “Diabetes insipidus tidak ada hubungannya dengan gula. Penyakit ini karena kekurangan hormon ADH (antidiuretic hormone), hormon yang berfungsi menahan kencing. Kalau hormon ini tidak ada otomatis keluar semua air kencingnya,” terang dr. Beni Santosa, SpPD-KEMD, FINASIM, dari RS Gading Pluit, Jakarta.  

ADH berperan penting dalam menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. ADH yang disebut juga hormon arginine vasopressin (AVP) diproduksi oleh sel-sel saraf di area hipotalamus otak. AVP dikeluarkan oleh hipotalamus ke kelenjar pituitari untuk disimpan sampai saat ia dibutuhkan.

Kelenjar pituitari melepaskan ADH saat jumlah cairan dalam tubuh berkurang. Ia akan menahan pengeluaran cairan tubuh dengan mengurangi jumlah air yang keluar lewat ginjal.

Pada diabetes insipidus, kurangnya ADH berarti ginjal tidak bisa memroduksi urin dalam konsentrasi yang cukup dan meloloskan terlalu banyak air keluar tubuh.

Tubuh melakukan mekanime kompensasi keluarnya air tubuh, dengan memunculkan rasa haus. Terjadi sebuah siklus kencing-haus-minum-kencing.

Penyebab

Diabetes insipidus bisa terjadi pada siapa saja. Penyebab pasti diabetes insipidus, atau kenapa otak tidak memproduksi cukup hormon ADH belum diketahui jelas.

“Namun biasanya berhubungan dengan kecelakaan, penyempitan pembuluh darah otak, efek operasi pengangkatan tumor otak, atau efek samping terapi radiasi akibat kanker yang menyebar di otak,” jelas dr. Beni dalam seminar ilmiah Management of Endocrine Disorder and Tumors, beberapa waktu lalu.

Gejalanya khasnya adalah rasa ingin kencing yang terus-menerus, haus dan kulit kering. Selain itu penderita akan mengalami gangguan konsentrasi, perubahan mood dan gangguan tidur. “Rasa ingin kencing yang muncul bukan seperti anyang-anyangan, tetapi air kencing keluar banyak. Bisa muncul tiap jam, tengah malam bisa kencing sampai 4 kali. Penderita biasanya merasa lemas karena dehidrasi,” imbuh dr. Beni.

Beberapa literatur menyebutkan seseorang yang menderita diabetes insipidus bisa buang air kecil tiap 15-20 menit. Jumlah urin yang keluar antara 5 liter (pada kasus ringan) sampai 20 liter (pada kasus berat).

Diabetes insipidus tidak boleh dipandang enteng karena berisiko membuat tubuh dehidrasi. Bahaya dehidrasi berat antara lain syok, koma, gagal ginjal, kejang, bahkan kematian akibat kegagalan fungsi organ-organ vital.

Pengobatan

Pengobatan diabetes insipidus tergantung penyebabnya. Jika disebabkan oleh kecelakaan atau tumor yang menekan pada area hipotalamus, atau bila dipicu oleh penyempitan pembuluh darah, setelah penyebabnya dikoreksi, keluhan diabetes insipidus akan sembuh.

“Tetapi kalau bukan karena masalah-masalah tersebut, maka penderita akan mengonsumsi obat hormon (dalam bentuk spray) seumur hidup untuk menggantikan ADH yang kurang,” pungkas dr. Beni. (jie)