Otitis Media yang Berbahaya | OTC Digest
otitis_media_bahaya_kolesteatoma

Otitis Media yang Berbahaya

Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan salah satu penyebab paling umum gangguan pendengaran dan tuli di negara berkembang. Akibat OMSK, pendengaran bisa berkuang hingga 50%. “Bila OMSK terus berlangsung, bukan hanya gendang telinga yang rusak, tapi mungkin juga terjadi kerusakan pada tulang-tulang pendengaran dan tulang temporal,” tutur dr. Syahrial Marsinta Hutauruk, Sp.THT-KL(K) dari RSCM, Jakarta.

Ada dua tipe OMSK, jinak dan bahaya. Ini juga tergantung dari letak robekan pada gendang telinga. Bila letaknya mendekati tepi liang telinga, umumnya lebih berbahaya. OMSK tipe jinak dan bahaya adalah dua jenis OMSK berbeda. Bila murni tipe jinak, tidak ada potensi berkembng menjadi tipe bahaya.

 

OMSK tipe jinak

Tipe jinak (benign/safe) disebut juga OMSK tipe mukosa atau tubotympanic. Pada OMSK tipe jinak, infeksi hanya mengenai daerah mukosa telinga, hingga membengkak. Tipe ini tidak menimbulkan risiko terjadinya erosi tulang. “Kalaupun ada jaringan tumbuh, hanya jaringan granulasi yang tidak merusak tulang,” ujar dr. Syahrial.

Disebut OMSK mukosa aktif bila cairan (congek) masih keluar. Sedangkan bila perforasi kering, disebut OMSK mukosa inaktif atau tenang. Bila diobati, OMK tipe jinak akan sembuh dan kering. Namun bisa kambuh bila anak kena ISPA (infeksi saluran pernafasan atas) lagi, mengorek-ngorek telinga, atau berenang hingga telinga kemasukan air.

 

OMSK tipe bahaya

Adapun OMSK tipe ganas (maligna/unsafe) disebut juga tipe tulang atau skuamosa atau atticoantral. Yang membedakannya dengan tipe jinak yakni terbentuknya kolesteatoma. “Kolesteatoma seperti jaringan tumbuh, dan menghasilkan enzim yang bisa merusak tulang,” terang dr. Syahrial.

Bila tulang sudah terkikis, kolesteatoma bisa menyebar ke mana-mana. “Kalau di dalam tulang temporal bisa merusak saraf ketujuh, membuat wajah jadi mencong,” imbuhnya. Kolesteatoma bisa pula merusak pendengaran sehingga telinga jadi tuli; bisa merusak alat keseimbangan sehingga timbul vertigo berat.

Lebih berbahaya lagi bila kolesteatoma merusak ke tulang dasar tengkorak. Infeksi bisa masuk ke daerah otak, dan menyebabkan meningitis (radang selaput otak), ensefalitis (radang otak), atau abses/nanah di otak. Kematian, terutama akibat abses otak, sangat banyak terjadi di negara berkembang. Dan di Indonesia, kolesteatoma cukup banyak terjadi.

Congek yang dihasilkan kolesteatoma baunya khas, mudah dikenali oleh dokter spesialis THT. Kita sebagai orang awam, bisa mengenali tanda OMSK tipe maligna dengan congek yang selalu saja keluar, tidak pernah kering. “Diobati dengan cara apapun cairan selalu ada, tidak ada periode sembuh,” papar dr. Syahrial.

Seringnya tidak ada tanda lain. Kalau sudah ada komplikasi, baru terasa. “Misalnya sakit kepala terus menerus, tiba-tiba wajah mencong, kejang, atau tiba-tiba tidak sadar,” imbuhnya.

Butuh waktu cukup lama hingga terjadi kolesteatoma. Bisa saja otitis media terjadi di usia 2 tahun, dan mulai muncul komplikasi akibat kolesteatoma pada usia 10tahun. Atau mungkin saja seseorang mengalami OMA pada masa kanak-kanak, dan komplikasi baru muncul di usia dewasa.

Otitis media bisa sembuh, tapi bila tulang-tulang pendengaran sudah telanjur rusak berat, sayangnya tidak bisa dikembalikan seperti semula. Seperti apa pengobatan dan penanganan media, baca di sini. (nid)

________________________________

Ilustrasi: tung256 / Pixabay.com