Berbagai Terapi untuk Vaginismus
terapi_vaginismus

Berbagai Terapi untuk Vaginismus

Tidak perlu malu berobat bila curiga mengalami vaginismus; Anda tidak sendirian. Menurut dr. Ni Komang Yeni Dhana Sari, Sp.OG, sebenarnya cukup banyak yang mengalami vaginismus, tapi hanya sedikit yang mau mengakuinya. “Yang mengaku hanya 1%, tapi di praktik spesialis angkanya antara 4,2 - 42%,” ujarnya.

Ada begitu banyak jenis vaginismus, penyebabnya, hingga berat-ringannya kondisi. “Ada yang sangat mudah diobati, bahkan keberhasilannya sampai 100%, tapi ada juga yang sangat sulit,” imbuhnya, kala dijumpai dalam diskusi yang diselenggarakan oleh BAMED Women’s Clinic beberapa waktu lalu di Jakarta.

Setelah dilakukan berbagai pemeriksaan dan dipastikan bahwa itu vaginismus, selanjutnya terapi bisa dimulai. Terapi terdiri dari pendidikan, konseling, dan latihan perilaku, yang disesuaikan dengan kebutuhan perempuan dan pasangannya. Umumnya, terapi meliputi kolaborasi antara psikiater dan dokter kandungan.

“Tujuan terapi, memberi rasa nyaman saja dulu. Perempuan bisa nyaman dengan kondisinya, mengobrol dengan dokter hingga dia sangat nyaman dan bisa terbuka berbicara dentang dirinya,” papar dr. Yeni. Ini penting untuk membangun rasa percaya diri terhadap organ genital, dan yakin bahwa tidak ada masalah pada organ fisik. Pada akhirnya, diharapkan perempuan bisa bersenggama tanpa rasa nyeri dan takut.

Dokter akan mengajarkan teknik relaksasi dan eksplorasi genital dengan vaginal trainer dan terapi fisik pada panggul. Lakukanlah catatan harian di rumah, untuk mencatat kemajuan terapi.

Bila ada riwayat trauma seksual, atau gangguan psikologis seperti kecemasan dan fobia, dokter akan merujuk ke psikolog/prikiater. Mungkin dibutuhkan terapi psikologis khusus, atau obat-obatan seperti penenang, antidepresan, dan lain-lain.

 

Terapi sendiri

Biasanya dokter akan memberi waktu untuk melakukan terapi sendiri, “Ingat, tujuannya memberi rasa nyaman. Aktivitas seksual kan tidak harus penetrasi. Bisa hugging, cuddling.” Saat mengoba bersenggama atau fingering, bisa gunakan pelumas untuk mengurangi gesekan. Cobalah mengikuti komunitas dengan kegiatan yang diminati, agar tidak merasa sendirian.

Olahraga bisa membantu, terutama yang bisa melemaskan otot-otot panggul dan sekitar vagina. Misalnya yoga dan pilates. Berlatihlah memasukkan satu jari sendiri, untuk membiasakan diri rileks saat penetasi. Dan, cobalah untuk rileks saat menghadapi rasa takut penetrasi.

 

Relaksasi progresif

Terapi ini bermanfaat untuk mengatasi kecemasan. Belajarlah untuk mengontrol dan melemaskan otot-otot sekitar vagina. Lakukan latihan Kegel, 20 kali setiap latihan. Tahan 2 – 10 detik, lalu lepaskan.

Setelah beberapa hari, gunakan jari sendiri sebagai vaginal trainer. Awalnya coba masukkan satu jari hingga buku jari pertama, saat melakukan Kegel. Pastikan kuku sudah dipotong rapi, dan gunakan pelumas. Perlahan, tingkatkan hingga tiga jari. Akan terasa otot-otot vagina berkontraksi di sekitar jari. Bila merasa tidak nyaman, keluarkan jari, lalu coba lagi di lain waktu secara perlahan. Penelitian menemukan, terapi relakasasi otot cukup bermanfaat karena timbul slef-control dan terjadi prubahan persepsi saat penetrasi.

 

Desensitisasi

Terapi ini melibatkan penggunaan alat vaginal trainer untuk latihan mengatasi kecemasan. Dimulai dengan ukuran vaginal trainer terkecil, dan secara bertahap ukurannya ditingkatkan makin besar. Hingga akhirnya vaginal trainer dengan ukuran penis standar bisa dimasukkan dengan nyaman.

 

Terapi lain

Terapi lain mungkin dibutuhkan, biasanya digunakan secara simultan. Antara lain biofeedback untuk melepaskan ketegangan otot dasar panggul, paha dan perut; fisioterapi; hipnoterapi; dan pengolesan lidokain topikal ke vagina.

Salah satu yang sedang tren sekarang yakni suntik botoks, unuk mengelola disfungsi dasar panggul. Prinsip kerjanya sama dengan botoks pada kulit, yakni mencegah ketegangan otot, dan membuatnya lebih rileks. “Meski sudah banyak yang melakukan, hingga saat ini FDA baru menyetujui penggunaan botoks untuk kulit. Untuk vaginismus belum,” tegas dr. Yeni. Terlebih, harganya sangat mahal, dan efeknya hanya bertahan 3-4 bulan. Melakukan terapi-terapi lain mungkin lebih bijak. Meski butuh waktu hinga vaginismus bisa diatasi, efeknya bertahan lama bahkan permanen, karena gangguan psikologisnya sudah diatasi.

 

Fokuslah pada diri sendiri selama menjalankan terapi, apapun bentuknya. Tidak perlu membndingkan diri dengan perempuan lain, yang bisa membuat konsep diri makin buruk. Dan, jangan memaksakan diri saat latihan; bila merasa tidak nyaman, berhentilah dulu.

Menariknya, beberapa kasus vaginismus bisa sembuh secara spontan. “Dengan diajak ngobrol saja, 10% bisa sembuh,” ujar dr. Yeni. Ini menunjukkan, betapa pentignnya perasaan nyaman dan percaya diri dengan organ genital sendiri. Yang terpenting, jangan enggan mencari pertolongan ke dokter, “Perceraian yang sia-sia karena vaginismus bisa dihindari.” (nid)

____________________________________________

Ilustrasi: Medical photo created by tirachardz - www.freepik.com