Surya sahetapy: raih kesuksesan meski tuna runggu | OTC Digest

Surya sahetapy: raih kesuksesan meski tuna runggu

Panji Surya Putra Sahetapy (23 tahun) yang akrab disapa Surya, sempat “menolak” berbahasa verbal alias bicara lisan. “Saya ingin mengadvokasi kaum tuna rungu untuk menggunakan bahasa isyarat,” ujarnya. Hatinya luluh ketika ibundanya berkata bahwa, “Itu tidak adil bagi mereka yang tidak mengerti bahasa isyarat.” Sekarang, hanya di forum-forum resmi ia menggunakan penterjemah, walau ia bisa bahasa verbal.

Kelahiran 21 Desember 1993 ini adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dari pasangan Dewi Yull - Ray Sahetapy (berpisah). Sama seperti kakak sulungnya, Gisca Puteri Agustina Sahetapy (almarhumah), Surya terlahir tuli (tuna rungu).

Pemuda tampan ini aktif, terbuka dan tidak tampak seperti orang berkebutuhan khusus. Ia bisa berkomunikasi layaknya orang lain, hingga selama tahun pertama SMP, teman-teman menyangka ia memiliki masalah pendengaran, bukan tunga rungu. Sejak duduk di bangku SMA, Surya menjadi aktivis bagi mereka yang senasib. Ia mensosialisasikan pentingnya bahasa isyarat, agar penderita tuna rungu memiliki kesempatan yang sama.

 

Belajar ekstra keras

Sejak awal, Dewi Yull berprinsip meski anaknya berkebutuhan khusus, pendidikan tetap yang utama. Ia ingin Surya bisa mandiri. Usia 2-4 tahun, ia masuk playgroup untuk anak-anak normal.  Masuk SLB, ia ingin ke Taman Kanak-Kanak. Namun, pihak sekolah memutuskan ia tetap di playgroup, sehingga ia kehilangan waktu 2 tahun sebelum kemudian masuk SD. Ia belajar dengan guru terapi wicara. Ia “balas dendam” dengan lompat kelas, dari kelas 4 ke kelas 6 saat di SLB (sekolah luar biasa) golongan B.

Ia “dipaksa” belajar bicara verbal, selain belajar bahasa isyarat. Kedua bahasa ini memang berbeda. Kata ‘pulang’ misalnya. Gerak bibirnya sama dengan kata ‘pula’ atau ‘ular’. Bahasa isyarat membantu menambahkan ‘ng’ di belakangnya. “Bicara verbal itu susah,” ucapnya. Apalagi mengucapkan kata yang belum pernah didengarnya.

Di Indonesia, tingkat pendidikan di SLB hanya dari pendidikan dasar (setingkat SD) sampai sampai sekolah lanjutan, setelah itu sekolah kejuruan (SMK). Tamat SLB, Surya ingin melanjutkan ke SMA biasa. Namun, untuk masuk SMA ia harus lulus tingkat SMP. Akibatnya, ia “turun kelas” dan masuk SMP biasa dulu.  

Ia sempat depresi dan stres karena kendala bahasa. “Saya mengerti apa yang teman-teman bicarakan, selama mereka tidak bicara terlalu cepat. Tapi mereka tidak mengerti maksud omongan saya,” ujar Surya. Bisa dikatakan komunikasi antara Surya dan teman-temannya hanya satu arah.

“Waktu itu rasanya mau mati,” kenangnya. Ia berusaha sekuat tenaga bisa mengikuti pelajaran, membaca bibir guru atau teman-teman waktu diskusi. “Saya duduk sampai harus muter-muter supaya tahu guru ngomong apa, karena guru sambil berkeliling kelas. Kerap setelah pulang, saya tidak tahu apa yang tadi dibicarakan di kelas. Untung teman-teman baik hati dan mau meminjamkan catatan,” paparnya.

Beruntung pula, Surya lahir dalam keluarga yang berpikiran terbuka, sehingga kesempatan untuk meraih impian-impiannya terbuka lebar. Suatu kali, ketika di bangku SMA ia berkata pada  ibunya, “Bu, saya ingin jadi aktivis untuk kaum tunarungu. Saya ingin mengajar bahasa isyarat.”

Impiannya terkabul. Surya sering diundang sebagai pembicara mengenai dunia orang tuna rungu, antara lain di Universitas Indonesia dan Universitas Islam Negeri Jakarta. Saat kuliah di Universitas Siswa Bangsa Internasional jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, ia menjadi instruktur bahasa isyarat penderita tuna rungu di Fakultas Kebudayaan Universitas Indonesia. Oktober 2013, ia mendapat Good Medallion pada kompetisi teknologi informasi bagi penyandang difabel di Bangkok, Thailand. Juni 2016, ia berkunjung ke Kantor Pusat PBB di New York, Amerika Serikat, menghadiri lokakarya mengenai disabilitas.

 

Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo)

Suatu kali ia hadir bersama sang Ibu dalam acara sosialisasi Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Ini merupakan advokasi bagi kaum tuna rungu, agar “suara” mereka didengar. Mereka ingin agar Bisindo menjadi bahasa isyarat resmi yang dipakai di Indonesia. Selama ini bahasa isyarat yang diakui pemerintah adalah SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia).

Masyarakat tuna rungu melalui GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia) sudah memperjuangkan Bisindo > 30 tahun. “SIBI dibuat oleh orang yang bisa mendengar, bukan oleh tuna rungu. Cocok digunakan dalam bahasa Inggris, tapi ketika diubah ke bahasa Indonesia jadi tidak nyambung,” ujar pemuda yang sempat magang di Kantor Gubernur DKI Jakarta.

SIBI seperti bercakap-cakap dengan bahasa baku, lengkap dengan awalan, akhiran dan imbuhan. Sementara Bisindo adalah bahasa percakapan sehari-hari yang lebih praktis. “Seperti untuk menjelaskan kata ‘ular’. Dengan SIBI, kita harus mengatakan dalam bahasa isyarat: ular yang berbisa. Sementara jika menggunakan Bisindo, cukup dengan gerakan tangan membentuk huruf ‘Z’  sambil mematuk. Simple,” jelasnya.

Di kalangan penderita tuna rungu, SIBI sulit dimengerti. “Tapi kalau kami ngobrol  menggunakan Bisindo 100% bisa mengerti,” ujar pemuda yang pernah mewakili Indonesia dalam pertemuan internasional penyandang disabilitas di Inggris 2014 ini.

Ia berpendapat, penderita tuna rungu berhak berkomunikasi dengan cara yang menurut mereka nyaman dan gampang. Ia ingin mensosialisasikan bahasa isyarat, kepada sesama tuna rungu dan kepada orang normal. “Kalau semakin banyak orang paham dan bisa bahasa isyarat, akan ada pendidikan khusus penterjemah. Jika di SD, SMP sampai perguruan tinggi ada penerjemah, dapat membuka peluang kerja yang luas bagi kami,” ujarnya.

We are deaf not dumb. Kami tuna rungu, tapi bukan orang bodoh,” tegasnya. Surya tak henti berjuang, agar kaun tuna rungu dapat memperoleh pengakuan itu. Semua orang, termasuk yang berkebutuhan khusus,  ingin diperlakukan sama. Termasuk dalam memperoleh informasi dan meraih kesuksesan. Surya membuktikan, penderita tuna rungu bisa berprestasi dan tidak harus menjadi beban orang lain, “Penderita tuna rungu  sama seperti orang yang bisa mendengar. Cara komunikasinya yang berbeda.” (jie)

 

Keterangan: foto diambil dari akun instagram Surya