Aryanthi Baramuli Putri, Hidup Lebih Berkualitas Setelah Kena Kanker | OTC Digest

Aryanthi Baramuli Putri, Hidup Lebih Berkualitas Setelah Kena Kanker

Penyakit kanker selain menakutkan juga istimewa. Banyak yang meninggal karena penyakit ini, sementara penderita kanker yang sembuh merasa diberi kesempatan kedua yang lebih bermakna. Ini dirasakan Aryanthi Baramuli Putri SH, MM, anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) RI perwakilan Sulawesi Utara. Sembuh dari kanker payudara, ia membentuk CISC (Cancer Information  & Support Center), komunitas untuk mewadahi sesama penderita kanker, keluarga dan relawan.  Ia menjadi   perwakilan daerah untuk periode 2004-2009, 2009-2014 dan 2014-2019.

“Kalau bukan seorang survivor  (sembuh dari kanker) saya mungkin berpikir, ngapain saya di sini (DPD),” ujar kelahiran Jakarta, 18 Oktober 1964.

Ia duduk di Komite II, yang membidangi sumber daya alam, lingkungan hidup dan ekonomi. Ia juga aktif di Yayasan Baramuli, antara lain dengan mendirikan sekolah perawat. “Jadi, tugas saya salah satunya menjadi aktivis kesehatan,” papar puteri mantan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan pernah menjadi gubernur termuda Ahmad Arnold (A.A.) Baramuli (almarhum).

Ia mendapati, penyakit kanker banyak disalahpahami. Misalnya, kanker disebut sebagai salah satu bentuk hukuman dari dosa yang kita lakukan. Atau, jika divonis kanker dan kemudian dibedah, justru semakin menyebar, dll.

Biasanya, keluarga juga melarang ini-itu. Padahal, penting untuk memperlakukan penderita kanker sebagaimana semestinya. Misalnya, pasien kondisi terminal yang sudah tidak bisa beraktivitas. Kalau ia biasa jalan pagi, membaca koran atau nonton TV, bawa ia ke teras 15 menit. “Bacakan koran atau nyalakan TV. Ajak bicara walau ia tidak bisa merespon. Kalau masih bisa, beraktivitaslah seperti biasa. Sehingga, meski memiliki keterbatasan fisik, pasien tetap memiliki hidup yang berkualitas,” ujar ibu dua anak ini.

Yang penting, pasca-operasi penyakit harus terkontrol atau tidak muncul kembali dalam 5 tahun. “Rasanya lega bisa melewati 5 tahun pertama. Sampai sekarang, tak terasa sudah 13 tahun berjalan,” paparnya sambil tersenyum.

 

Kanker grade 3

Ia didiagnosis kanker payudara grade 3 pada Agustus 2002. Padahal, satu tahun sebelumnya, ia melakukan mamografi dan seluruh hasilnya bagus. Arynthi memiliki pola hidup yang baik: olahraga teratur, melakukan diet karbohidrat (mengganti nasi dengan ubi, kentang, dsb) sejak melahirkan anak pertama, rutin cek kesehatan dan tidak memiliki riwayat genetis kanker.

“Saya juga melakukan SADARI (periksa payudara sendiri). Setahun setelah mamografi itu, ada satu benjolan. Sempat bertanya ke teman, dan dibilang itu biasa. Sampai lewat sebulan, saya lupa untuk periksa. Ketika diperiksa, langsung disarankan mammo lagi. Hasil USG positif kanker dan harus dioperasi,” katanya.

Hasil USG mendapati benjolan di payudara kiri bertambah, lebih dari 7 benjolan, dan sudah sampai di kelenjar getah bening.  Grade 3 berarti tumor menyebar dengan cepat. “Saya sempat tidak mau berobat, shock dan menerima kondisi. Pasrah,” kata sosok yang biasa dipanggil ABP ini.

Ketika itu, ia divonis kesempatan hidupnya hanya 50%. Artinya, diobati mungkin sembuh, mungkin juga nggak. Aryanthi merasa heran, karena selalu menjalani pola hidup sehat dan sepanjang hidupnya tak pernah mengalami kelebihan berat badan, atau overkolesterol. "Saya olahragawati, atlet karate dan hoki. Sampai sekarang rutin fitness. Awalnya sempat heran, kok bisa kena kanker," ujarnya.

Belakangan dia memahami, kanker dipicu banyak faktor. Selain pola makan dan kurang olahraga, faktor-faktor seperti polusi, stres, dan rokok bisa berpengaruh.

Operasi pengangkatan payudara kiri pun dilakukan, dilanjutkan dengan kemoterapi. Ia sempat bertanya-tanya: apa dan bagaimana itu kemo, dsb. Juga bingung, bagaimana menyampaikan kabar buruk itu kepada anak yang saat itu berumur 10 tahun.

“Jadi, malam-malam saya tidur sama anak, mikir ngomong bagaimana,” kenang wanita yang pernah mendapat penghargaan The Indonesian Best Enterpreneur Award 2001, Woman of The Year 2003 dan Bintang Kehormatan Legiun Veteran 2005 (mewakili ayahandanya). Akhirnya dia berkata,  “Mama punya kanker, mama mau dikemo.”

Respon si anak mengejutkan. “Ia bangun dan memeluk sambil membelai rambut saya dan berkata, ‘tidak apa-apa Ma. Kemo itu nanti rambut mama botak ya?’ Hati  saya runtuh, saya menangis. Tidak sangka anak sekarang itu beda, dia browsing internet. Dia mencari tahu kanker itu apa. Kebetulah orangtua sahabatnya ada yang kena kanker.” 

Proses kemoterapi dijalani. Mulut dipenuhi sariawan, tapi ia paksakan untuk makan. Mual dan diare yang kadang tak tertahankan dilawan. Ia segera ke dokter, karena tak ingin mengulangi kebodohan. Pernah, satu minggu diare ia baru ke dokter. Kata dokter: bahaya diare saat kemo, karena kondisi tubuh sedang dibuat turun.

 

Duo botak

“Bahasa pasien,” demikian ABP menyebut perasaan sesama penderita kanker. Saat dikemo, ia bertemu Yuniko Deviana, yang juga sedang dikemo. Mereka berbagi informasi dan curhat, sampai akhirnya muncul ide membentuk supporting group untuk para penderita kanker. Tahun 2003, lahirlah CISC.

“Waktu itu kami masih sama-sama botak. Duo botak, ha ha ha,” kekeh Yanthi. “Kami bertemu beberapa orang lagi, bertemu dokter ahli bedah. Mereka bilang : ngurus diri sendiri saja sudah susah, ngapain bikin organisasi.  Paling cuma mendirikan, ngurusnya tidak. Dengan bantuan dokter yang keluarganya kena kanker, CISC  terbentuk.”

Mengurus pasien penuh suka duka. Yang pertama dilakukan saat ada anggota baru adalah menyadarkan, bahwa ia tidak sendiri. “Kamu di sini bersama kami. Saya dulu di posisimu, atau saya juga  kemo. Kebersamaan dan bahasa pasien itu, tidak ada yang bisa memahami kecuali sesama pasien,” katanya.

Diberikan informasi yang cukup, agar anggota mampu menentukan pengobatan yang dibutuhkan, misalnya mengubah dari non-medis ke medis, atau kombinasi, dengan sepengetahuan dokter. 

“Anggota CISC yang aktif di Jakarta sekitar 150 orang. Banyak yang bilang, CISC itu rumah kedua pasien.  Kalau tidak ketemu, kangen. Saya sibuk, tapi kangen. Habis bepergian ke banyak tempat, begitu ke CISC saya ingat, pola hidup sehat harus ditingkatkan lagi.”

CISC kini memiliki 3 rumah singgah bagi penderita kanker dari luar daerah, yang harus menjalani perawatan di Jakarta. “Buat saya, kanker bukan akhir, tapi awal kehidupan. Dengannya, saya bisa melihat dunia dengan lebih lengkap. Kualitas hidup saya menjadi lebih baik, termasuk secara spiritual.” (jie)