Vaginismus, Kala Mrs.V “Ngambek” | OTC Digest

Vaginismus, Kala Mrs.V “Ngambek”

Malam pertama seharusnya menjadi momen istimewa bagi pengantin baru. Namun pada perempuan yang mengalami vaginismus, justru jadi bencana. Ini adalah kondisi di mana vagina “mengunci”; 1/3 bagian bawah otot vagina kontraksi/mengejang tanpa sadar, sebelum maupun selama senggama. Alhasil, penetrasi mustahil dilakukan.

Apa penyebabnya? “Pertama organik; apakah ada penyakit fisik?” ujar dr. Sylvia Detri Elvira, Sp.KJ (K) dari Klinik Empati, RSCM, Jakarta. Misalnya kondisi yang mengganggu pembuluh darah seperti tekanan darah tinggi, kolesterol dan diabetes mellitus (DM). Atau, ada tumor di organ reproduksi, atau pernah mengalami kecelakaan.

Faktor lainnya psikologis. Ini penyebab paling banyak. Faktor psikologis termasuk faktor kultur, misalnya “doktrin” orang tua sejak kecil bahwa hubungan seksual itu berbahaya. Bisa pula disebabkan trauma akibat kekerasan fisik/seksual, atau memang tipe kepribadian perempuan yang cenderung tertutup dan “dingin”.

Yang ketiga, faktor relationship; misalnya si perempuan dijodohkan dan tidak suka dengan pasangan. Bisa pula terjadi vaginismus sekunder: perempuan mengalami vaginismus, padahal sebelumnya tidak. Ini bisa terjadi misalnya kecewa dengan sikap suami, dan ingin “balas dendam”.

Belum ada data, berapa banyak angka vaginismus di Indonesia. Tapi berdasarkan pengalaman dr. Sylvia, di Klinik Edelweiss tahun 2006-2008, dari 10 perempuan yang datang dengan disfungsi seksual, 4-5 di antaranya vaginismus. Di Klinik Empati, sekarang pasien terbanyak adalah vaginismus. “Kalau di tempat lain, mungkin yang paling banyak gangguan gairah dan gangguan orgasme,” imbuhnya.

Vaginismus bukan skak mat, tapi bisa diobati. Pengobatan disesuaikan dengan penyebabnya. Jika disebabkan faktor organik, maka kondisi yang mendasarinya harus diperbaiki. Misalnya tekanan darah dan DM dikontrol, tumor diangkat. Jika masalahnya psikologis, tentu harus konsultasi ke psikiater.

Bila ternyata ada depresi, dokter akan memberi obat anti depresi, yang perlu dikonsumsi selama 3 - 6 bulan. Bila ada rasa cemas, maka diberi obat anti cemas. “Selain obat, dilakukan psikoterapi,” terang dr. Slyvia.

Psikoterapi berupa latihan relaksasi. Misalnya dengan berbaring, dipandu oleh dokter. Latihan ini juga harus dilakukan sendiri di rumah. Persepsi yang salah mengenai hubungan intim juga diluruskan. Dokter memberikan edukasi mengenai hubungan intim yang sehat.

Tak kalah penting, latihan bersama suami. “Seperti foreplay, tapi tanpa target tertentu. Makin sering latihan, makin baik. Komunikasi antara pasangan pun akan membaik,” tutur dr. Sylvia. Suami harus kooperatif. Dr. Sylvia menyarankan agar datang ke dokter bersama suami, agar suami mengerti masalah yang dihadapi istrinya.

Jika pasien dan pasangannya kooperatif, bisa sembuh dalam dua kali pertemuan. Jika tidak ? “Äda yang sampai 6 bulan belum sembuh.” Disarankan konsultasi ke dokter satu kali seminggu, atau tiap dua minggu. “Kalau lebih lama dari itu, nanti lupa. Di rumah juga harus rajin latihan,” kata dr. Sylvia. Jika kondisi psikologis cukup berat, bisa dilakukan hipnoterapi. (nid)