Pil Kontrasepsi, Mitos dan Fakta | OTC Digest

Pil Kontrasepsi, Mitos dan Fakta

Masih banyak anggapan yang kurang tepat mengenai pil kontrasepsi. Selain efektif dan aman, pil kontrasepsi generasi baru juga memiliki manfaat tambahan.

Banyak mitos seputar pil kontrasepsi. Misalnya bahwa pil kontrasepsi membuat rasa mual, bikin gemuk, menyebabkan jerawat, memicu kemandulan, dan tidak haid bukan hal yang normal. Ada ketakutan terkena tumor atau kanker payudara, indung telur dan rahim bila menggunakan pil kontrasepsi. Semuanya membuat banyak perempuan anti terhadap pil dan/atau metode kontrasepsi lain, terutama yang hormonal.

Pada dasarnya, kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah kehamilan. Ada sekitar 80 juta kehamilan setahun di dunia, termasuk Indonesia; 34 juta kelahiran tidak diharapkan sehingga bisa berujung aborsi. “Tidak cuma di Indonesia, tapi seluruh dunia,” tutur dr. Boy Abidin, Sp.OG (K) dari RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta. Aborsi dapat memunculkan komplikasi seperti organ reproduksi rusak sehingga tidak bisa hamil lagi, bahkan  kematian. 

Hal ini, sebenarnya, tak perlu terjadi. Dengan kontrasepsi, kita tetap bisa melakukan aktivitas sesual sekaligus mengatur jumlah anak, jarak antar kelahiran dan usia ibu saat hamil. Sehingga, peningkatan angka kematian bayi bisa ditekan, ibu bisa menyusui lebih lama dan lebih focus mengurus bayi. Efek dominonya, anak-anak tumbuh lebih sehat, gizi dan pendidikan lebih terjamin karena orangtua lebih siap dalam merencanakan keuangan dan mengatur ekonomi keluarga.

Metode kontrasepsi ada yang berupa hormonal (pil, IUS, suntik) dan non hormonal (kondom, IUD/spiral). Pil termasuk yang efektivitasnya baik dan aman. Jangan takut dengan mitos yang beredar, karena bisa dipatahkan secara ilmiah.

Mitos atau fakta?

Pil kontrasepsi kombinasi mengandung progestin dan estrogen. Pil yang hanya mengandung progestin (mini pil) biasanya diberikan untuk ibu menyusui. Tahun 1960-an ketika pertama kali keluar, dosis estrogen dan progestin dalam pil kombinasi tinggi, sehingga dapat menimbulkan efek samping seperti mual. “Dosisnya kini makin rendah (20 mikrogram). Jenis hormone yang digunakan makin baik, mendekati hormone alami tubuh,” terang dr. Boy.

Studi oleh Berenson dan Rahman (2009) melibatkan 703 perempuan selama 3 tahun. Sebagian menggunakan pil kontrasepsi kombinasi, sebagian suntik hormone (DMPA), sebagian lagi kontrasepsi non hormonal. Selama 36 bulan, peningkatan berat badan dan massa lemak tubuh tidak jauh beda, antara kelompok yang menggunakan pil dan non hormonal. Pada kelompok suntik, peningkatannya cukup tajam.

Pil kontrasepsi menimbulkan jerawat? “Itu mitos, tidak ada kaitannya,” terang dr. Boy. Justru pil kombinasi yang menggunakan progestin generasi terbaru, memiliki manfaat tambahan: membantu mengatasi masalah jerawat. Beberapa perempuan memiliki kadar androgen berlebih sehingga kulit berminyak, berjerawat dan tumbuh bulu di bawah hidung. Pemberian pil kombinasi seperti ini dapat memberi efek anti-androgen, sehingga keluhan-keluhan hilang.

Mitos bahwa pil kontrasepsi menyebabkan ketidaksuburan dan tidak haid,  tidak masuk akal bila kita memahami cara kerja pil. Perubahan hormonal diatur oleh orak, ovarium (indung telur) dan endometrium (lapisan dinding rahim). Menjelang siklus haid, otak mengeluarkan hormone LH dan FSH yang merangsang sel telur (ovum) membesar dan matang, hingga terjadi ovulasi. Hal ini direspon oleh ovarium, dengan memproduksi hormone estrogen dan progesterone yang memicu penebalan endometrium. “Begitu endometrium sudah cukup tebal, akan memberi umpan balik ke otak untuk menghentikan produksi hormone,” papar dr. Boy.

Pil kontrasepsi bekerja dengan ‘memperdayai’ system ini, dan membuat lendir serviks pekat sehingga mempersulit pergerakan sperma.. Penambahan hormone estrogen dan progestin dari luar, akan ‘menipu’ otak, membuatnya berpikir bahwa terjadi kehamilan, “Sehingga otak tidak mengeluarkan hormone yang merangsang ovulasi.” Karena ovulasi tidak terjadi, dinding rahim tidak menebal. Kalaupun menebal, hanya sedikit. Maka, wajar bila tidak terjadi haid. Haid bisa terjadi saat pil habis (hari ke-21); biasanya hanya sebentar dan darahnya sedikit, karena endometrium tidak menebal banyak.

“Efek pil hanya bertahan 24 jam. Karenanya, disarankan untuk minum pada jam yang sama agar proteksinya optimal,” tegas dr. Boy. Begitu lupa minum pil, system hormonal kembali bekerja seperti biasa, sehingga bisa terjadi kehamilan. Saat dikonsumsi sesuai anjuran, pil dapat mencegah kehamilan, “Tapi begitu distop, kesuburan segera kembali. Karenanya, cocok bagi pasangan muda yang ingin menunda kehamilan sementara waktu.”

Tidak memicu kanker

Yang paling ditakutkan yakni mitos bahwa pil kontrasepsi dapat memicu tumor/kanker.  Sebagai informasi, ovarium dan endometrium termasuk sel-sel tubuh yang paling aktif membelah. Pembelahan sel yang tidak terkontrol bisa berujung pada tumor/kanker. “Dengan pil, pembelahan ini ditekan; ovulasi dicegah dan tidak terjadi pertumbuhan endometrium berlebihan. Bagaimana mungkin ditekan malah memicu keganasan?” tutur dr. Boy.

Studi oleh Harkinson, dkk (1992) menemukan, risiko kanker ovarium berkurang 10-12% setelah penggunaan pil selama 1 tahun, dan berkurang 50% setelah penggunaan 5 tahun. Studi lain menemukan, risiko kanker endometrium dan kista ovarium juga berkurang. Ini manfaat tambahan lain dari pil kontrasepsi kombinasi.

Efek negatif pil juga tidak terbukti menyebabkan kanker payudara. Beberapa penelitian memang menemukan peningkatan risiko kanker payudara. “Namun, banyak hal yang tidak diperhitungkan. Misalnya usia, jenis pil yang digunakan, dan riwayat kanker dalam keluarga,” ujar dr. Boy. Pada perempuan yang berisiko, terutama riwayat kanker payudara terkait hormone, perlu lebih hati-hati.

Tiap metode kontrasepsi memiliki keunggulan dan kekurangan. “Pil kontrasepsi kombinasi dengan estrogen dosis rendah dan progestin terbaru, efektivitas dan keamanannya baik, dan ada keuntungan tambahan,” simpul dr. Boy. Kekurangan pil, harus diminum setiap hari. Agar tidak lupa, simpan pil di tempat yang Anda akses setiap hari di jam yang sama, misalnya laci pakaian dalam. Ada baiknya berdiskusi dengan dokter kandungan atau bidan saat memilih metode kontrasepsi. Informasikan tujuan menggunakan kontrasepsi, kondisi kesehatan, penyakit dan obat-obatan yang dikonsumsi, agar bisa dipilih metode yang paling sesuai. (nid)