Vaksinasi HPV: Target Program Nasional pada 2019 | OTC Digest
kanker_serviks_program_vaksin_hpv

Vaksinasi HPV: Target Program Nasional pada 2019

Kanker serviks (leher rahim) adalah satu-satunya kanker yang bisa dicegah dengan vaksin, dalam hal ini vaksin HPV. Kanker pebunuh nomor dua perempuan di Indonesia ini utamanya disebabkan oleh HPV (Human Papilloma Virus) tipe onkogenik (bisa menyebabkan kanker). Tipe onkogenik yang paling sering menyebabkan kanekr serviks yakni tipe 16 dan 18 (>70%). Adapun tipe non onkogenik tidak menyebabkan kanker, tapi  bisa memicu timbulnya kutil kelamin (kondiloma), misalnya tipe 6 dan 11. Ini terungkap dalam press release yang diterima OTC Digest hari ini, Senin (26/01/2018).

Kanker serviks di Indonesia sangat mengkhawatirkan.Tiap satu jam, seorang perempuan di Indonesia meninggal akibat penyakit ini (Globocan 2012). Mengingat kondisinya sudah demikian mendesak, Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) mendorong program nasional vaksinasi HPV untuk mencegah kanker serviks segera dilaksanakan pemerintah.

Vaksinasi HPV telah mulai dilaksanakan di DKI Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Tahun ini menyusul Manado dan Makassar. Namun sayangnya belum menjadi program nasional. “Kalau vaksinasi dilakukan secara sporadis di wilayah-wilayah kecil seperti ini tidak akan efektif. Program nasional vaksinasi HPV sudah sangat mendesak,” tegas Ketua HOGI Prof. Dr. dr. Andrijono Sp.OG(K) di hadapan anggota Komisi IX DPR RI dalam  Rapat Dengar  Pendapat Umum dengan Komisi IX, awal Februari.

(Baca juga: Bunga Jelitha: Vaksin HPV Penting)

Anjuran HOGI, vaksin diberikan untuk perempuan usia 9-55 tahun. Akan lebih efektif bila diberikan pada usia 9-13 tahun, sebelum anak terpapar HPV. Terlebih, risiko tertular HPV pada perempuan muda di Indonesia cukup tinggi karena pernikahan usia dini yang masih tinggi.

Pada perempuan dewasa, vaksin HPV diberikan tiga kali. Sedangkan untuk remaja, cukup dua kali karena respon imun sangat bagus. Tentu lebih nyaman bagi anak, dan lebih ekonomis. Dan pastinya, biaya vaksinasi jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan kanker serviks.

Pada program yang sudah dilakukan, vaksinasidifokuskan pada anak perempuan usia 10 tahun (kelas 5 SD/sederajat). Digunakan vaksin kuadrivalen, yakni mengandung empat serotipe HPV: 6, 11, 16, dan 18. Dengan demikian tidak hanya melindungi si Upik dari kanker serviks, melainkan juga kondiloma. 

(Baca juga: Vaksin HPV Cegah Kutil pada Bayi)

Komisi IX DPR-RI termasuk yang paling aktif mendorong vaksin HPV dijadikan program nasional, sejak tahun 2015, disukung oleh semua fraksi. “Kami sudah menyampaikan juga kepada Menteri Kesehatan agar tidak lagi menunda program ini. Biaya untuk program vaksin nasional jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan, yang sangat membebani BPJS,” ujar Irma Chaniago, Anggota Komisi IX DPR-RI.

Harga vaksin HPV di praktik dokter pribadi sekitar Rp 750.000 untuk sekali suntik, belum termasuk biaya jasa dokter dan administrasi (bila dilakukan di rumah sakit).  “Jika dijadikan program nasional, harganya akan jauh lebih terjangkau. Propinsi DKI yang sudah melakukan program ini hanya membutuhkan biaya sekitar 200-300 ribu sekali suntik.  Kalau menjadi program nasional, tentu harga akan turun lagi,” jelas Irma.

(Baca juga: Ups! HPV Tidak Hanya Sebabkan Kanker Serviks tapi Juga Kanker Lain)

HOGI berharap  pembahasan anggaran Kementerian Kesehatan di tahun 2018 ini sudah memasukkan program nasional vaksin HPV, sehingga programnya bisa segera terlaksana. “Paling lambat tahun 2020 harus sudah terlaksana,” ujar Prof. Andrijono.

Rapat Dengar Pendapat Umum antara Komisi IX DPR RI dan HOGI juga dihadiri oleh Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks (KICKS), Fatayat Nahdatul Ulama, Yayasan Kanker Indonesia dan beberapa LSM yang bergerak mengampanyekan pencegahan kanker serviks.

Kanker serviks tidak sekadar merenggut nyawa seorang perempuan. Kehidupan anak-anak dan keluarga pun ikut terdampak bila ibu terserang kanker serviks lalu meninggal dunia. (nid)