Jangan Telan Odol | OTC Digest

Jangan Telan Odol

Xylitol, Manis tapi Aman

Pasta gigi anak yang mengandung fluoride berbahaya bila tertelan. Pasta gigi yang mengandung  xylitol aman untuk anak.

Sambil gosok gigi, menelan pasta gigi. Sekitar 30% anak di dunia pernah melakukan ini. Menurut drg. Sabai Asmaraghrya, dari Klinik Identalcare, Jakarta Selatan,”Kebiasaan menelan pasta gigi berisiko  fluorosis, atau kelebihan fluoride dalam tubuh.”  Hal itu terlihat dengan adanya garis atau bercak-bercak putih hingga kecoklatan di gigi, akibat pembentukan email gigi tidak sempurna.  Bercak ini sulit dihilangkan, biasanya akan menetap seumur hidup.

“Apa saja kalau dipakai berlebihan, pasti berdampak buruk. Fluoride berlebihan tidak menguatkan gigi, tapi menyebabkan gigi keropos,” katanya.

Email gigi yang tidak tertutup sempurna adalah jalan masuk bagi kuman, dan dapat  menyebabkan gigi berlubang (karies). Menurut American Dental Association (ADA), risiko fluorosis ada sampai anak berumur 8 tahun, saat masih terjadi proses pembentukan gigi.

Fluorosis juga terjadi karena pemakaian mouthwash dan konsumsi air yang mengandung fluoride berlebihan. Itu sebabnya, ADA tidak merekomendasikan pemakaian mouthwash sampai anak berusia > 6 tahun, karena reflek akan untuk memuntahkan makanan belum sempurna.

Fluoride berlebih dalam jangka panjang juga berisiko menyebabkan kelainan tulang yang disebut skeletal fluorosis. Separuh kandungan fluoride disimpan di tulang. Gejala awal skeletal fluorosis adalah kaku dan nyeri sendi. Berikutnya dapat menyebabkan pengapuran sendi dan ligamen.

Xylitol

Fluorosis, menurut ADA, dapat dihindari dengan tidak menggunakan produk perawatan gigi berfluoride. Sebagai gantinya adalah xylitol, yakni pemanis alami dari pohon white birch, yang banyak tumbuh di Finlandia. Senyawa ini ada dalam tubuh manusia dalam jumlah tertentu, juga ditemukan pada buah seperti stroberi, wortel dan jagung.

Xylitol dapat berperan sebagai pengganti fluoride. Riset menunjukkan, zat ini dapat membantu memperbaiki kerusakan email gigi. Mekanismenya dengan meningkatkan produksi air liur. Saliva (air liur) yang mengandung xylitol lebih basa, dibanding saliva yang distimulasi oleh gula jenis lain.

Akibatnya, konsentrasi asam amino dan amonia dalam saliva dan plak gigi naik. Keasaman (pH) plak ikut naik. Saat pH di atas 7, kalsium dan garam fosfat dalam air liur mulai ‘bergerak’ ke bagian gigi yang emailnya kurang. Email gigi yang tergerus akan diregenerasi.

Studi oleh Trahan L, Neron S, dkk menyatakan, xylitol mampu mengurangi jumlah bakteri Streptococcus mutant di mulut, dengan mengganggu proses produksi energinya. Saat bakteri Streptococcus ‘memakan’ xylitol, akan diubah menjadi xylitol-5-phosphate yang mendegradasi membran sel. Kondisi ini memicu kematian bakteri.  Kemampuan bakteri melekat pada gigi juga berkurang, sehingga pembentukan plak minimal. Termasuk mengurangi produksi asam yang bisa merusak gigi hingga 90%. Riset Trahan dimuat di jurnal Oral Microbiology and Immunology (1991). (jie)