Diabetes Picu Bayi Lahir Obes | OTC Digest

Diabetes Picu Bayi Lahir Obes

Seorang ibu dapat melahirkan bayi dengan bobot berlebih. Sebaiknya hal ini diwaspadai karena berisiko mengalami komplikasi.

Kelebihan kadar glukosa dalam darah dan insulin pada ibu hamil, menyebabkan bayi memiliki lebih banyak lemak di bagian atas tubuhnya sehingga berat badannya besar (makrosomia). Bayi dengan berat berlebihan, membuatnya sulit lahir melalui persalinan normal. Saraf di leher bayi di bagian tubuh lain bisa terluka. Bayi besar membutuhkan tindakan pembedahan, agar terhindar dari luka pada persalinan normal.

Beberapa saat setelah dilahirkan, ada kemungkinan bayi memiliki kadar glukosa darah rendah (hipoglikemia), karena tubuhnya masih memroduksi insulin berlebih sebagai respons dari asupan glukosa yang tinggi dari ibunya.

Untuk deteksi dini, bayi akan diperiksa kadar glukosa darahnya segera setelah dilahirkan. Menurut dr. Rino Bonti Tri Hadma Shanti, SpOG, “Jika kadar glukosa darahnya rendah, langsung diberi infus glukosa.”

Bayi juga berpotensi mengalami penyakit kuning (jaundice) karena kadar bilirubin darah tinggi, khususnya bila hati bayi belum cukup berkembang; dan sulit bernapas, terutama jika paru-parunya belum cukup berkembang.

 

Komplikasi di usia dini

Bayi dari ibu dengan diabetes berisiko tinggi menderita obesitas dan diabetes pada usia yang sangat muda. Penelitian terbaru menunjukkan, bayi mungkin mengalami kendala dalam membentuk memori dini.

Studi Patricia Bauer menyebutkan, bayi mulai dapat mengingat sejak usia 4 bulan dan membentuk memori pada akhir tahun pertama seperti halnya orang dewasa. Namun kecepatan melupakan pada bayi jauh lebih cepat dibandingkan orang dewasa.

Kebutuhan akan zat besi meningkat selama masa kehamilan, karena zat tersebut digunakan untuk membentuk sel-sel darah janin. Pada wanita hamil yang menderita diabetes, kadar glukosa yang naik-turun dapat mengakibatkan defisiensi zat besi sehingga dapat menyebabkan penurunan kapasitas darah untuk mengangkut oksigen.

“Defisiensi oksigen dan zat besi yang terjadi selama masa pranatal inilah yang dapat mempengaruhi perkembangan daya ingat bayi,” jelasnya.

De Boer meneliti bayi berusia 12 bulan dari ibu yang menderita diabetes, kemudian melakukan pemantauan ulang ketika bayi-bayi tersebut berusia 42 bulan. Penelitiannya menunjukkan, defisit memori yang tampak pada usia 1 tahun bersifat menetap sampai masa anak-anak awal.

Pada kelompok anak yang lebih besar, ditunjukkan 9 objek dalam 3 tingkat kesulitan. Pada tingkat kesulitan tertinggi, bayi dari ibu yang menderita diabetes selama hamil mengalami kesulitan menyebutkan nama obyek. Mereka tidak dapat menyebutkan nama obyek yang ditunjukkan sebanyak yang dapat disebutkan oleh anak dari ibu yang normal. Hasil tersebut konsisten dengan defisit yang diukur dengan pengujian sederhana saat bayi berusia 12 bulan. (puj)

 

Baca juga: Terapi Diabetes pada Ibu Hamil