Anak Kurang Tidur Berisiko Kolesterol Tinggi Saat Remaja | OTC Digest

Anak Kurang Tidur Berisiko Kolesterol Tinggi Saat Remaja

Jumlah jam tidur di masa kanak-anak bisa mencerminkan seberapa besar kemungkinan mereka akan mengalami masalah kolesterol saat remaja.

Sebuah tim peneliti dari University of Helsinki, Finlandia, melihat efek perbedaan lamanya waktu tidur pada kesehatan lebih dari 1.049 orang dewasa.

Liisa Kuula-Paavola, pemimpin penelitian ini menemukan semakin sedikit waktu tidur dan tidak teraturnya jam tidur, seorang anak berisiko memiliki profil lemak yang buruk saat ia menginjak usia remaja.     

Profil lemak buruk berarti memiliki kadar LDL (low-density lipoprotein) alias kolesterol ‘jahat’ yang tinggi, dan level HDL (high-density lipoprotein; kolesterol ‘baik’) rendah. Hasil tersebut tampak lebih nyata pada remaja wanita dibanding laki-laki.

Dilansir dari dailymail.co.uk, bahwa efek negatif tidak hanya berdampak pada kolesterol. Anak-anak yang waktu tidurnya kurang menunjukkan kemampuan pengendalian diri yang buruk, dibanding mereka yang tidur lebih lama.

Bagaimana riset dilakukan

Dampak dari kebiasaan tidur malam yang buruk pada kesehatan telah banyak diketahui, seperti fungsi otak yang tidak maksimal, masalah psikiatrik dan jantung, bahkan obesitas. Namun dampak jangka panjang buruknya waktu tidur pada anak-anak belum pernah diteliti.

Pola tidur pada masa kanak-kanak berubah secara drastis; sekitar  22 jam per hari saat bayi, menjadi sekitar 9 jam diawal masa remaja. Itu sebabnya tidak mendapatkan cukup waktu tidur dalam periode ini bisa menjadi masalah besar.

Dalam penelitian ini Kuula-Paavola meneliti pola tidur yang berbeda pada 1.049 partisipan yang lahir antara Maret sampai November 1998 di Helsinki, Finlandia. Pola tidur, intelegensi dan profil lemak partisipan diuji 4 kali antara 2006 sampai 2015.

Teknik aktigrafi dipakai untuk mengukur kualitas dan lamanya tidur, di mana partisipan harus memakai semacam gelang ‘pintar’ selama tidur. Kemudian peneliti juga mengukur tingkat intelegensia dengan melihat kemampuan daya ingat dan fungsi eksekutif (kontrol diri) otak. Terakhir, mereka mengambil sampel darah untuk mengukur kolesterol.

Anak perempuan lebih berisiko

Kuula-Paavola menemukan pada anak perempuan lebih mungkin mengalami kolesterol tinggi di kemudian hari jika mereka memiliki waktu tidur lebih sedikit di masa kanak-kanak. Sementara kemampuan kontrol diri anak laki-laki lebih terpengaruh akibat buruknya kualitas tidur, dibanding anak perempuan.

“Kami menemukan pada perempuan, bahwa semakin lama dan baik kualitas tidur berhubungan positif dengan penanda kolesterol (cholesterol markers),” ujar Paavola. “Tidur dan metabolisme tubuh sangat berkaitan.”

TGs – protein yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid – yang kemudian akan dirubah menjadi LDL-C sangat sensitif dengan asupan makanan. Di satu sisi kurang tidur mempengaruhi nafsu makan. “Sangat mungkin jika pola tidur yang tidak teratur menyebabkan pola makan yang tidak sehat dan peningkatan nafsu makan,” tutupnya. (jie)