Anak Anda Susah Makan? Terapkan Rumus Makan (3+2)/3 Ini | OTC Digest

Anak Anda Susah Makan? Terapkan Rumus Makan (3+2)/3 Ini

Hal apa yang sering menjengkelkan orangtua? Tak salah lagi: memberi makan pada si kecil. Anak memang sering susah makan. Meski menunya enak, belum tentu si kecil mau makan.

Orangtua sering membujuk anaknya agar mau makan sambil bermain; entah gawai, boneka, robot. Atau, mengajak anak ke restoran yang menyediakan fasilitas mainan anak-anak. Cara ini, ternyata, tidak disarankan.  

Menurut dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K), MPH, konsultan tumbuh kembang FKUI-RSCM, anak sebaiknya makan sambil duduk di meja makan. Gangguan di lingkungan sekitar seperti TV, mainan atau makan sambil tiduran, perlu dihindari.

Makan sambil duduk dapat meminimalisasi terjadinya refluks, yaitu membaliknya (naiknya) asam lambung. Juga mencegah orthostatic hipotension, atau penurunan tekanan darah saat perut sedang mencerna makanan. Saat sedang makan dalam porsi besar, aliran darah terpusat pada organ pencernaan sehingga kepala mudah pusing.

Juga mencegah anak tersedak, atau makanan “nyasar”  ke batang tenggorok saat menelan, yang mengakibatkan batuk-batuk hingga muntah. Ini bisa terjadi jika anak makan sambil berlari, bercanda, menyanyi atau melamun.

Jadwal makan penting

Orangtua sebaiknya menerapkan jadwal makan yang tegas, bukan menanti sampai si kecil lapar. Bisa dengan menerapkan rumus (3+2)/30.

“Tiga kali makan utama dan dua kali selingan, plus susu, per tiga puluh menit,” jelas dr. Bernie.

Artinya, waktu makan anak harus dibatasi. Jika tidak, anak akan bertingkah seenaknya karena merasa orangtua selalu menuruti atau menungguinya.

Bagaimana jika dalam waktu 30 menit anak hanya makan dua suap? “Biar saja. Karena waktu makan sudah selesai, jika anak merengek cukup diberi snack. Anak boleh makan lagi pada waktu makan berikutnya. Lama-kelamaan anak akan mengerti dan belajar pola ini. Kalau tidak demikian, bisa satu jam makan belum juga selesai. Dia nonton TV sambil ngemut makanan,” kata dr. Bernie.

Rumus (3+2)/30 bisa diterapkan sejak si kecil mulai mengenal makanan padat. Perlu diingat, makan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, tapi mengajari anak untuk mengerti dan taat pada jadwal, disiplin. Mempelajari tekstur, rasa dan belajar menggunakan otot-otot motorik. 

Ingat, tidak menerapkan waktu makan akan banyak implikasi. Dapat membuat anak menjadi pilih-pilih makanan (picky eaters – hanya mau makan yang itu-itu saja), kurang atau kelebihan nutrisi. Anak kurang bisa  memahami konsep lapar dan kenyang, jika setiap kali dibolehkan makan.

Satu hal, anak bukanlah miniatur orang dewasa, termasuk dalam porsi makan. Kemampuan perut anak untuk menerima makanan lebih sedikit. Jangan memaksa anak menghabiskan makanan,  jika ia sudah merasa kenyang. Untuk mengendalikan anak yang cenderung makan berlebihan, ajari untuk makan dengan porsi kecil dan mengambil yang kedua hanya jika ia masih merasa lapar. (jie)